Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rudal Klaster Iran Hantam 16 Titik di Tel Aviv, Ledakan Besar Lukai Warga dan Kerusakan Parah

JAKARTA, Framing NewsTV — Sebuah rudal klaster yang diluncurkan Iran dilaporkan menghantam sedikitnya 16 lokasi di Tel Aviv pada Minggu, menyebabkan sejumlah warga mengalami luka-luka serta menimbulkan kerusakan di beberapa bagian kota. Media Israel melaporkan bahwa rudal tersebut membawa hulu ledak yang berisi lebih dari 16 submunisi yang pecah menjadi beberapa bagian saat berada di atas wilayah kota.

Saat rudal tersebut meledak di udara, submunisi yang dibawanya menyebar dan menghantam sejumlah titik berbeda di wilayah Tel Aviv. Dampak dari serangan ini dilaporkan menyebabkan enam orang mengalami luka-luka, sementara kerusakan material juga terjadi di beberapa lokasi yang terkena ledakan.

Ledakan besar terdengar di berbagai wilayah Tel Aviv dan kawasan Israel bagian tengah. Peristiwa tersebut memicu kepanikan warga yang berusaha mencari perlindungan di tengah bunyi sirene peringatan serangan udara yang kembali terdengar di sejumlah wilayah.

Sirene Serangan Udara Berbunyi di Sejumlah Wilayah

Tidak hanya di Tel Aviv, sistem peringatan dini Israel juga mengaktifkan sirene serangan udara di beberapa wilayah lain. Di antaranya adalah wilayah al-Quds serta daerah di utara dekat perbatasan Lebanon.

Sirene juga terdengar di kawasan Doviv dan Baram setelah muncul kekhawatiran adanya potensi infiltrasi pesawat tak berawak. Situasi ini membuat aparat keamanan Israel meningkatkan kesiagaan militer di sejumlah titik strategis.

Serangan rudal tersebut menjadi bagian dari rangkaian eskalasi konflik yang terjadi antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir.

Serangan Terkait Gelombang Ke-28 Operasi True Promise 4

Sebelumnya pada hari yang sama, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan peluncuran gelombang ke-28 dari Operasi True Promise 4. Dalam operasi ini, Iran menyatakan telah menggunakan rudal generasi baru untuk menargetkan kota-kota di Israel serta fasilitas militer yang terkait dengan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut bahwa dalam gelombang serangan terbaru tersebut mereka mengerahkan rudal bernama Kheibar, yang dilengkapi dengan hulu ledak sangat berat. Rudal tersebut diklaim sebagai bagian dari generasi baru sistem persenjataan strategis Iran.

Target yang disebut dalam operasi tersebut meliputi wilayah Bir al-Sabe' dan Tel Aviv. Selain itu, sejumlah infrastruktur yang berkaitan dengan Pangkalan Udara Al-Azraq juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.

Pangkalan tersebut disebut sebagai salah satu basis militer ofensif terbesar yang digunakan oleh pesawat Amerika Serikat dalam berbagai operasi militer di kawasan Timur Tengah.

IRGC juga menyatakan bahwa skala serta kedalaman serangan militer Iran terhadap pihak yang dianggap sebagai musuh diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa jam maupun hari mendatang. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Teheran akan terus merespons apa yang mereka sebut sebagai agresi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

IRGC Berencana Tingkatkan Operasi Militer

Korps Garda Revolusi Iran juga dilaporkan berencana memperluas operasi militernya dalam waktu dekat. Sumber yang mengetahui informasi tersebut menyampaikan kepada Kantor Berita Fars bahwa peningkatan operasi ofensif akan dimulai pada malam hari.

Menurut sumber tersebut, langkah ini diambil sebagai respons terhadap kebijakan Amerika Serikat yang dipimpin Presiden Donald Trump serta sikap Gedung Putih terhadap Iran.

IRGC disebut berencana meningkatkan operasi drone sekitar 20 persen, sementara operasi rudal strategis akan ditingkatkan hingga 100 persen. Peningkatan ini bertujuan untuk memperkuat efek pencegah serta memberikan respons yang lebih tegas terhadap setiap agresi militer terhadap kepentingan Iran.

Sumber tersebut juga menegaskan bahwa strategi ini dimaksudkan untuk memastikan Iran mampu mempertahankan kepentingan nasionalnya sekaligus menunjukkan kemampuan militernya dalam menghadapi tekanan dari pihak luar.

Latar Belakang Konflik Iran dengan AS dan Israel

Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel meningkat tajam sejak 28 Februari 2026. Pada tanggal tersebut, kedua negara melancarkan serangan militer terkoordinasi ke berbagai wilayah Iran di tengah berlangsungnya perundingan terkait program nuklir negara tersebut.

Serangan gabungan tersebut menargetkan berbagai fasilitas militer, sistem rudal, serta struktur kepemimpinan Iran di sejumlah kota besar, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, dan Karaj.

Laporan yang beredar menyebutkan bahwa lebih dari 1.300 warga sipil tewas akibat serangan tersebut di berbagai wilayah Iran. Beberapa target yang disebut dalam laporan juga termasuk pemimpin tertinggi Iran, Sayyed Ali Khamenei.

Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran segera meluncurkan operasi balasan melalui Operasi True Promise 4. Dalam operasi ini, Iran menembakkan ratusan drone dan rudal balistik ke wilayah yang dikuasai Israel serta berbagai target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Serangan balasan Iran juga menyasar sejumlah pangkalan militer sekutu di Bahrain, Qatar, Kuwait, Irak, Yordania, dan Uni Emirat Arab. Langkah tersebut menandai meluasnya potensi konflik di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, Iran juga meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap instalasi militer Amerika Serikat serta berbagai aset koalisi yang berada di kawasan. Serangan-serangan tersebut bertujuan untuk mengganggu operasi militer Barat sekaligus menantang dominasi udara yang selama ini dimiliki oleh Amerika Serikat dan Israel di wilayah tersebut.

Konflik yang terus meningkat ini menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya perang di kawasan Timur Tengah, dengan berbagai pihak internasional menyerukan upaya deeskalasi untuk mencegah dampak yang lebih besar bagi stabilitas regional dan global. (fntv)

Sumber: Kantor Berita Al Mayadeen

Posting Komentar untuk "Rudal Klaster Iran Hantam 16 Titik di Tel Aviv, Ledakan Besar Lukai Warga dan Kerusakan Parah"