Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Qatar Peringatkan Dunia: Perang Iran Bisa Hentikan Ekspor Energi Teluk dalam Hitungan Minggu

JAKARTA, Framing NewsTV – Pemerintah Qatar memperingatkan bahwa eskalasi perang yang melibatkan Iran dapat menghentikan ekspor energi dari negara-negara Teluk dalam waktu singkat. Peringatan tersebut disampaikan oleh Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, yang menilai konflik yang terus meningkat berpotensi memicu gangguan besar pada pasar energi global.

Dalam wawancara dengan Financial Times yang dipublikasikan pada Jumat, al-Kaabi menyatakan bahwa jika konflik berlangsung selama beberapa minggu, dampaknya tidak hanya akan dirasakan di kawasan Timur Tengah tetapi juga di seluruh dunia. Ia memperingatkan bahwa gangguan pasokan energi dapat menimbulkan efek domino terhadap perekonomian global.

Risiko Gangguan Energi Global

Menurut al-Kaabi, eskalasi konflik berpotensi menghentikan ekspor energi dari kawasan Teluk dalam waktu yang relatif singkat. Kondisi tersebut akan berdampak langsung pada stabilitas pasar energi internasional.

“Jika perang terus meningkat, ekspor dari kawasan ini dapat berhenti dalam beberapa minggu,” kata al-Kaabi dalam wawancara tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa dampaknya akan meluas pada berbagai sektor industri global.

“Harga energi semua orang akan naik. Akan ada kekurangan beberapa produk dan akan terjadi reaksi berantai di mana pabrik-pabrik tidak dapat memasok,” ujarnya.

Kenaikan harga energi yang tajam, menurutnya, dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia karena banyak negara sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.

Produksi LNG Qatar Terhenti Sementara

Situasi semakin memanas setelah Qatar menghentikan produksi gas alam cair atau LNG pada awal pekan ini. Keputusan tersebut diambil setelah Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke wilayah Qatar dan beberapa negara tetangganya di kawasan Teluk.

Serangan tersebut merupakan respons terhadap operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Dalam beberapa hari terakhir, serangan Iran dilaporkan semakin menargetkan infrastruktur energi di kawasan tersebut. Hal ini memicu lonjakan harga gas global sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Qatar sendiri merupakan salah satu pemain utama dalam pasar LNG global. Produksi LNG negara itu diperkirakan menyumbang sekitar 20 persen dari total pasokan dunia.

Pasokan tersebut memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi negara-negara di Asia dan Eropa.


Al-Kaabi juga memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan energi di kawasan Teluk kemungkinan akan mengajukan klausul force majeure jika situasi konflik terus memburuk.

Klausul tersebut biasanya digunakan dalam kontrak bisnis untuk membebaskan perusahaan dari kewajiban tertentu ketika terjadi peristiwa luar biasa di luar kendali mereka, seperti perang atau bencana besar.

“Kami memperkirakan semua pihak yang belum mengajukan klausul force majeure akan melakukannya dalam beberapa hari ke depan selama situasi ini berlanjut,” kata al-Kaabi.

Ia menambahkan bahwa hampir semua eksportir energi di kawasan Teluk mungkin terpaksa mengambil langkah yang sama jika konflik tidak segera mereda.

Jalur Energi Strategis Terancam

Salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran global adalah terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi internasional.

Peneliti energi dari Brussels Institute for Geopolitics, Thijs Van de Graaf, menjelaskan bahwa aktivitas pengiriman melalui jalur tersebut telah menurun drastis sejak konflik meningkat.

“Semua produsen di Teluk yang bergantung pada jalur ekspor itu harus menghentikan produksi, seperti yang telah dilakukan Irak untuk dua atau tiga ladang minyak utama,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Ia menambahkan bahwa gangguan pada produksi energi dapat menimbulkan dampak jangka panjang.

“Sumur minyak tidak bisa dimatikan dan dihidupkan kembali seperti menyalakan saklar lampu,” kata Van de Graaf.

Menurutnya, penghentian produksi dapat memerlukan waktu lama untuk kembali ke kapasitas normal.

Pemulihan Pasokan Butuh Waktu Lama

Bahkan jika konflik segera berakhir, al-Kaabi memperingatkan bahwa industri energi Qatar tidak dapat langsung kembali ke kondisi normal.

Ia memperkirakan diperlukan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk memulihkan siklus pengiriman LNG ke pasar internasional.

Gangguan jangka panjang tersebut berpotensi menimbulkan tekanan tambahan terhadap pasar energi global yang sudah menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik.

Konflik Iran Belum Menunjukkan Tanda Mereda

Sementara itu, konflik yang melibatkan Iran masih terus meningkat tanpa tanda-tanda mereda. Para pejabat tinggi Amerika Serikat bahkan menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran akan terus dilanjutkan.

Ketegangan semakin meningkat dengan munculnya kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi invasi darat yang lebih luas.

Di sisi lain, Iran terus melancarkan serangan balasan ke berbagai target di kawasan Timur Tengah.

Meski mendapat kecaman dari sejumlah negara yang menilai serangan tersebut melanggar hukum internasional, pemerintah Iran menegaskan bahwa mereka hanya membela kedaulatan nasional.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, melalui unggahan di media sosial menegaskan posisi negaranya.

“Iran berkomitmen pada perdamaian abadi di kawasan ini, namun kami tidak ragu untuk membela martabat dan kedaulatan bangsa kami,” tulisnya.

Ia juga menegaskan bahwa upaya mediasi internasional seharusnya diarahkan kepada pihak-pihak yang memicu konflik tersebut, merujuk pada Amerika Serikat dan Israel.

Dengan eskalasi yang terus meningkat, para analis memperingatkan bahwa dampak konflik Iran tidak hanya akan memengaruhi stabilitas politik Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengguncang pasar energi global dan perekonomian dunia. (fntv)

Posting Komentar untuk "Qatar Peringatkan Dunia: Perang Iran Bisa Hentikan Ekspor Energi Teluk dalam Hitungan Minggu"