Sejak 2001, Berapa Banyak Negara yang Dibom Amerika Serikat dan Berapa Biaya Perangnya?
JAKARTA, Framing NewsTV — Sejak serangan teroris 11 September 2001 (9/11) di Amerika Serikat, kebijakan luar negeri Washington mengalami perubahan besar dengan dimulainya apa yang disebut sebagai “perang melawan teror”. Kampanye militer global tersebut membawa Amerika Serikat terlibat dalam berbagai konflik di sejumlah negara, mulai dari invasi skala penuh hingga operasi serangan udara dan drone.
Dalam dua dekade terakhir, Amerika Serikat telah melancarkan operasi militer di berbagai wilayah, termasuk Afghanistan, Irak, Suriah, Pakistan, Somalia, Yaman, dan Libya. Operasi tersebut mencakup invasi langsung, dukungan militer kepada sekutu lokal, hingga serangan jarak jauh menggunakan pesawat tanpa awak atau drone. Kebijakan ini terus berlanjut dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya, termasuk hingga masa kepemimpinan Donald Trump, yang juga menggunakan kekuatan militer untuk mengejar kepentingan strategis Washington di berbagai kawasan.
Perang Global Melawan Teror Dimulai Setelah 9/11
Serangan teroris pada 11 September 2001 menjadi titik awal bagi perubahan besar dalam strategi keamanan Amerika Serikat. Pemerintahan George W. Bush meluncurkan kampanye militer global yang disebut sebagai “War on Terror” atau perang melawan terorisme.
Kampanye tersebut bertujuan memburu kelompok ekstremis seperti Al-Qaeda dan menghancurkan jaringan mereka di berbagai negara. Namun dalam praktiknya, operasi tersebut berkembang menjadi perang berkepanjangan yang melibatkan invasi militer, operasi intelijen, serta serangan udara di banyak wilayah konflik.
Menurut analisis dari Watson Institute for International and Public Affairs di Brown University, perang yang dipimpin Amerika Serikat sejak 2001 telah menyebabkan sekitar 940.000 kematian langsung di berbagai zona konflik seperti Afghanistan, Pakistan, Irak, Suriah, dan Yaman. Angka ini belum termasuk korban tidak langsung akibat kelaparan, penyakit, atau runtuhnya sistem kesehatan dan ekonomi di wilayah perang.
Biaya Perang yang Mencapai Triliunan Dolar
Selain korban jiwa, perang yang dipimpin Amerika Serikat juga menimbulkan biaya ekonomi yang sangat besar. Studi dari proyek Costs of War di Brown University memperkirakan bahwa Washington telah menghabiskan sekitar 5,8 triliun dolar AS untuk membiayai operasi militer sejak tahun 2001.
Biaya tersebut mencakup berbagai komponen pengeluaran pemerintah, di antaranya:
- 2,1 triliun dolar untuk anggaran Departemen Pertahanan AS (Pentagon)
- 1,1 triliun dolar untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri
- 884 miliar dolar untuk peningkatan anggaran dasar militer
- 465 miliar dolar untuk layanan kesehatan veteran perang
- Sekitar 1 triliun dolar untuk pembayaran bunga utang yang digunakan membiayai konflik
Para peneliti memperkirakan biaya tersebut belum akan berhenti. Amerika Serikat diprediksi masih harus mengalokasikan sekitar 2,2 triliun dolar lagi dalam tiga dekade ke depan untuk membiayai perawatan medis dan tunjangan para veteran perang.
Jika digabungkan, total biaya perang sejak 2001 diperkirakan dapat mencapai sekitar 8 triliun dolar AS.
Perang Afghanistan: Konflik Terpanjang Amerika
Respons militer pertama setelah serangan 9/11 adalah invasi ke Afghanistan. Pada 7 Oktober 2001, Amerika Serikat meluncurkan operasi militer yang dikenal sebagai Operation Enduring Freedom.
Tujuan utama operasi tersebut adalah menghancurkan jaringan Al-Qaeda dan menggulingkan rezim Taliban yang saat itu berkuasa di Afghanistan. Invasi awal berhasil menjatuhkan pemerintahan Taliban hanya dalam beberapa minggu.
Namun konflik tersebut berubah menjadi perang berkepanjangan ketika kelompok-kelompok bersenjata melancarkan perlawanan terhadap pasukan Amerika Serikat dan sekutunya dari NATO.
Perang Afghanistan akhirnya menjadi konflik terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, berlangsung selama 20 tahun hingga penarikan pasukan terakhir pada 2021. Setelah pasukan AS mundur, Taliban kembali mengambil alih kekuasaan di negara tersebut.
Menurut analisis proyek Costs of War, sekitar 241.000 orang meninggal secara langsung akibat konflik ini. Dari jumlah tersebut, sebagian besar merupakan warga sipil.
Sementara itu, setidaknya 3.586 tentara dari Amerika Serikat dan sekutu NATO tewas selama perang berlangsung. Biaya yang dikeluarkan Washington untuk konflik Afghanistan diperkirakan mencapai 2,26 triliun dolar.
Invasi Irak dan Dampak Jangka Panjang
Perang besar kedua yang dilancarkan Amerika Serikat terjadi di Irak pada tahun 2003. Pemerintahan George W. Bush saat itu menuduh Presiden Irak Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal.
Invasi militer dimulai pada 20 Maret 2003. Beberapa minggu kemudian, Washington menyatakan operasi militer besar telah berakhir. Namun kenyataannya, konflik di Irak terus berlanjut selama bertahun-tahun.
Kekosongan kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Saddam Hussein memicu munculnya berbagai kelompok bersenjata dan konflik sektarian. Situasi tersebut bahkan membuka jalan bagi kemunculan kelompok ekstremis ISIS (ISIL) di kawasan tersebut.
Amerika Serikat akhirnya mulai menarik pasukan tempurnya secara bertahap pada 2008, dan proses tersebut diselesaikan pada tahun 2011 di masa pemerintahan Barack Obama.
Perang Drone di Pakistan, Somalia, dan Yaman
Selain perang skala penuh, Amerika Serikat juga mengembangkan strategi baru berupa serangan drone atau pesawat tanpa awak.
Sejak pertengahan tahun 2000-an, CIA dan militer AS melancarkan berbagai serangan drone di wilayah perbatasan Pakistan dan Afghanistan untuk menargetkan pemimpin Al-Qaeda dan Taliban.
Program drone ini kemudian diperluas secara signifikan pada masa pemerintahan Barack Obama, terutama pada tahun-tahun awal masa kepresidenannya.
Serangan serupa juga dilakukan di Somalia terhadap kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, serta terhadap milisi al-Shabab yang semakin kuat di negara tersebut.
Di Yaman, militer Amerika Serikat melancarkan sejumlah serangan rudal dan drone yang menargetkan tokoh-tokoh yang diduga terkait dengan jaringan Al-Qaeda di Semenanjung Arab.
Intervensi NATO di Libya
Pada tahun 2011, Amerika Serikat turut serta dalam operasi militer yang dipimpin NATO di Libya. Intervensi tersebut terjadi saat gelombang pemberontakan melanda negara yang dipimpin oleh Muammar Gaddafi.
Pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan udara dan rudal untuk menegakkan zona larangan terbang yang ditetapkan NATO.
Konflik tersebut berakhir dengan tergulingnya Gaddafi, yang kemudian tewas dalam pertempuran. Namun setelah itu Libya justru terjerumus ke dalam periode panjang ketidakstabilan politik dan konflik antar kelompok bersenjata.
Operasi Militer di Irak dan Suriah Melawan ISIS
Sejak tahun 2014, Amerika Serikat juga terlibat dalam operasi militer di Suriah dan kembali memperluas operasi di Irak untuk memerangi kelompok ISIS.
Washington melancarkan serangan udara secara berkelanjutan di Suriah sambil mendukung kelompok mitra lokal di lapangan.
Di Irak, militer Amerika Serikat memberikan dukungan militer dan pelatihan kepada pasukan pemerintah Irak dalam upaya memerangi sisa-sisa kelompok ISIS serta membatasi pengaruh Iran di kawasan tersebut.
Salah satu operasi paling kontroversial terjadi pada tahun 2020, ketika Presiden Donald Trump memerintahkan serangan udara di Baghdad yang menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani, seorang tokoh militer penting Iran.
Warisan Dua Dekade Konflik
Lebih dari dua dekade setelah dimulainya perang melawan teror, Amerika Serikat masih terlibat dalam berbagai operasi militer di luar negeri. Konflik-konflik tersebut telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar serta menimbulkan biaya ekonomi yang sangat besar bagi Washington.
Di sisi lain, banyak kawasan yang menjadi lokasi operasi militer tersebut masih menghadapi ketidakstabilan politik, krisis kemanusiaan, dan konflik berkepanjangan hingga saat ini.
Perdebatan mengenai efektivitas dan dampak jangka panjang dari strategi militer Amerika Serikat di berbagai wilayah dunia pun terus berlangsung di kalangan akademisi, pembuat kebijakan, dan masyarakat internasional. (fntv)

Posting Komentar untuk "Sejak 2001, Berapa Banyak Negara yang Dibom Amerika Serikat dan Berapa Biaya Perangnya?"