Iran Diserang AS-Israel, Mengapa Rusia dan China Hanya Mengutuk Tanpa Dukungan Militer?
JAKARTA, Framing NewsTV – Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu reaksi keras dari berbagai negara, termasuk Rusia dan China yang selama ini dikenal sebagai dua mitra diplomatik terkuat Teheran. Perang tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai tindakan yang melanggar norma moral dan hukum internasional. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai “pelanggaran sinis terhadap semua norma moral manusia”.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya kekerasan di kawasan. Dalam percakapan dengan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar, Wang menegaskan bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah dan menyerukan semua pihak untuk menghindari eskalasi konflik yang lebih luas.
Sebagai bagian dari respons diplomatik, Rusia dan China juga secara bersama-sama meminta agar Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa segera menggelar pertemuan darurat guna membahas situasi tersebut.
Hubungan Dekat Iran dengan Rusia dan China
Reaksi dari Moskow dan Beijing mencerminkan hubungan yang semakin erat antara Iran, Rusia, dan China dalam beberapa tahun terakhir. Ketiga negara ini kerap menampilkan koordinasi diplomatik dalam berbagai forum internasional, terutama dalam menghadapi tekanan dari negara-negara Barat.
Selain kerja sama politik, hubungan tersebut juga diperkuat melalui berbagai perjanjian bilateral serta latihan militer bersama. Latihan angkatan laut antara Rusia, China, dan Iran di kawasan Samudra Hindia menjadi salah satu simbol kerja sama strategis yang berkembang di antara mereka.
Ketiga negara tersebut juga sering menyoroti apa yang mereka anggap sebagai dominasi tatanan internasional yang dipimpin Amerika Serikat. Dalam berbagai kesempatan, Moskow, Beijing, dan Teheran menegaskan perlunya sistem internasional yang lebih multipolar.
Namun, meskipun hubungan politik dan diplomatik tersebut terlihat erat, kenyataannya baik Rusia maupun China tidak menunjukkan kesiapan untuk melakukan intervensi militer secara langsung guna membela Iran dalam konflik yang sedang berlangsung.
Rusia dan Iran: Kemitraan Strategis Tanpa Aliansi Militer
Pada Januari 2025, Rusia dan Iran menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif yang mencakup berbagai sektor. Perjanjian tersebut meliputi kerja sama perdagangan, militer, ilmu pengetahuan, budaya, hingga pendidikan.
Kesepakatan ini juga bertujuan memperkuat koordinasi pertahanan dan intelijen antara kedua negara. Selain itu, Rusia dan Iran berupaya mengembangkan proyek infrastruktur besar seperti koridor transportasi internasional yang menghubungkan Rusia dengan kawasan Teluk melalui wilayah Iran.
Kerja sama tersebut bahkan diperkuat dengan latihan militer gabungan di Samudra Hindia pada akhir Februari, hanya beberapa hari sebelum konflik dengan Amerika Serikat dan Israel meletus.
Meski demikian, perjanjian tersebut tidak memuat klausul pertahanan bersama. Artinya, Rusia tidak memiliki kewajiban hukum untuk ikut berperang apabila Iran terlibat dalam konflik militer.
Analisis Pakar Rusia
Andrey Kortunov, mantan Direktur Jenderal Dewan Urusan Internasional Rusia sekaligus anggota Klub Diskusi Valdai, menjelaskan bahwa perjanjian Rusia dengan Iran tidak sekuat perjanjian pertahanan yang dimiliki Moskow dengan negara lain.
Ia mencontohkan perjanjian pertahanan antara Rusia dan Korea Utara pada tahun 2024 yang memiliki klausul lebih mengikat. Dalam perjanjian tersebut, Rusia diwajibkan untuk membantu Korea Utara jika negara itu terlibat dalam konflik militer.
Sebaliknya, perjanjian dengan Iran hanya memuat kesepakatan bahwa kedua negara akan menahan diri dari tindakan yang merugikan pihak lain jika salah satu di antaranya terlibat konflik.
Menurut Kortunov, risiko geopolitik yang terlalu besar membuat Rusia kemungkinan besar tidak akan melakukan intervensi militer langsung dalam konflik Iran.
Ia juga menilai Moskow saat ini memiliki prioritas strategis lain, termasuk upaya diplomasi terkait konflik di Ukraina dan hubungan dengan Amerika Serikat.
Kekecewaan di Kalangan Pejabat Iran
Meskipun Rusia telah menunjukkan dukungan diplomatik terhadap Iran, sejumlah pihak di Teheran dilaporkan merasa kecewa dengan respons Moskow yang dinilai terbatas.
Beberapa pejabat Iran disebut berharap Rusia dapat mengambil langkah yang lebih kuat, tidak hanya melalui jalur diplomatik di Dewan Keamanan PBB atau forum internasional lainnya.
Namun bagi Rusia, keterlibatan militer langsung dalam konflik Timur Tengah berpotensi memperluas konfrontasi global yang saat ini sudah cukup kompleks.
Hubungan China dan Iran yang Bersifat Pragmatis
Selain Rusia, China juga memiliki hubungan yang cukup erat dengan Iran. Pada tahun 2021, kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama selama 25 tahun yang bertujuan memperkuat hubungan ekonomi dan energi.
Kesepakatan tersebut mencakup investasi besar China dalam sektor energi Iran serta integrasi Iran ke dalam proyek ambisius Beijing, yaitu Inisiatif Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative.
Jodie Wen, peneliti dari Center for International Security and Strategy di Universitas Tsinghua, menjelaskan bahwa hubungan antara China dan Iran selama ini dipandang sebagai kemitraan pragmatis yang stabil.
Ia menyebut bahwa hubungan tersebut mencakup pertukaran politik yang rutin serta kerja sama ekonomi yang intensif, dengan banyak perusahaan China yang berinvestasi di Iran.
Batasan Keterlibatan Militer China
Namun demikian, China memiliki batasan yang jelas terkait keterlibatan militernya dalam konflik negara lain. Pemerintah China secara konsisten menekankan prinsip non-intervensi dalam urusan domestik negara lain.
Menurut Jodie Wen, prinsip tersebut membuat kemungkinan China mengirim senjata atau bantuan militer langsung kepada Iran menjadi sangat kecil.
Sebaliknya, Beijing diperkirakan akan lebih fokus pada peran diplomatik, termasuk membuka jalur komunikasi dengan Amerika Serikat serta negara-negara Teluk guna mencegah konflik meluas.
Langkah ini sejalan dengan kepentingan strategis China yang sangat bergantung pada stabilitas kawasan Timur Tengah sebagai sumber energi utama.
Ketergantungan Ekonomi Iran pada China
Secara ekonomi, hubungan Iran dengan China sangat signifikan. Data dari layanan pelacakan kapal Kpler menunjukkan bahwa sekitar 87,2 persen ekspor minyak mentah Iran dikirim ke China.
Angka tersebut menegaskan betapa pentingnya China sebagai mitra ekonomi utama bagi Iran, khususnya di tengah berbagai sanksi internasional yang membatasi perdagangan Iran dengan negara Barat.
Namun, hubungan ini juga tidak sepenuhnya simetris. Bagi China, Iran hanyalah salah satu dari sekian banyak mitra dagang global yang dimiliki Beijing.
China Dorong Upaya Mediasi Regional
Dylan Loh, profesor madya di Program Kebijakan Publik dan Urusan Global di Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, menilai bahwa China kemungkinan akan memainkan peran sebagai mediator dalam konflik tersebut.
Menurutnya, Beijing memiliki kepentingan besar untuk mencegah ketidakstabilan kawasan yang dapat mengancam jalur perdagangan dan pasokan energi global.
Ia menilai bahwa China saat ini sedang melakukan penilaian strategis untuk menurunkan risiko politik dan mencari cara terbaik dalam meredakan konflik.
Upaya tersebut termasuk mempercepat dialog diplomatik dengan berbagai pihak guna mencegah konflik berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.
Konflik Iran dan Dinamika Geopolitik Global
Perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel menunjukkan bagaimana konflik regional dapat dengan cepat menjadi isu geopolitik global.
Meskipun Rusia dan China secara terbuka mengecam tindakan militer terhadap Iran, kedua negara tampaknya memilih pendekatan yang lebih berhati-hati dengan memprioritaskan diplomasi dibandingkan konfrontasi langsung.
Strategi ini mencerminkan keseimbangan kepentingan geopolitik yang kompleks, di mana dukungan politik terhadap mitra tidak selalu berarti keterlibatan militer secara langsung.
Ke depan, respons Rusia dan China terhadap konflik Iran diperkirakan akan tetap berada dalam kerangka diplomasi internasional, sambil berupaya menjaga stabilitas kawasan yang memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi dan keamanan global. (fntv)

Posting Komentar untuk "Iran Diserang AS-Israel, Mengapa Rusia dan China Hanya Mengutuk Tanpa Dukungan Militer?"