Aktivis Perempuan Irak Yanar Mohammed Tewas Ditembak di Baghdad, Dunia Serukan Keadilan
JAKARTA, Framing NewsTV – Pembunuhan aktivis hak-hak perempuan Irak terkemuka, Yanar Mohammed, memicu gelombang duka dan kecaman dari berbagai penjuru dunia. Mohammed, 66 tahun, tewas setelah sejumlah pria bersenjata tak dikenal yang mengendarai sepeda motor melepaskan tembakan di luar rumahnya di Baghdad awal pekan ini.
Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong akibat luka tembak yang dideritanya. Insiden tersebut kembali menyoroti risiko besar yang dihadapi para pembela hak asasi manusia, khususnya aktivis perempuan di Irak.
Kecaman dari Organisasi Perempuan Irak
Organization of Women's Freedom in Iraq (OWFI), kelompok yang didirikan bersama oleh Mohammed, mengonfirmasi kematiannya melalui pernyataan di media sosial.
“Meskipun dilarikan ke rumah sakit dan berbagai upaya untuk menyelamatkan nyawanya dilakukan, ia meninggal dunia akibat luka-lukanya,” demikian pernyataan organisasi tersebut.
OWFI mengecam keras pembunuhan itu dan menyebutnya sebagai “kejahatan teroris pengecut” serta serangan langsung terhadap perjuangan feminis dan nilai kebebasan serta kesetaraan.
Respons Amnesty International dan Seruan Penyelidikan
Reaksi internasional segera bermunculan. Amnesty International menyebut serangan tersebut sebagai tindakan “brutal” dan menilainya sebagai upaya terencana untuk membungkam para pembela hak asasi manusia, khususnya mereka yang memperjuangkan hak-hak perempuan.
Peneliti Amnesty untuk Irak, Razaw Salihy, menyatakan bahwa Mohammed telah mendedikasikan hidupnya untuk membela perempuan.
“Pihak berwenang Irak harus menghentikan pola serangan yang ditargetkan ini, dan menanggapi dengan serius kampanye fitnah berkelanjutan yang dirancang untuk mendiskreditkan dan membahayakan para aktivis,” ujarnya.
Amnesty juga menyampaikan bahwa Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani telah memerintahkan penyelidikan atas pembunuhan tersebut dan mendesak agar para pelaku dibawa ke pengadilan.
Jejak Panjang Perjuangan Hak Perempuan
Selama lebih dari dua dekade, Yanar Mohammed dikenal sebagai salah satu suara paling vokal dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di Irak. Menurut Front Line Defenders, ia aktif sejak awal 2000-an melindungi perempuan yang menjadi korban kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan manusia, dan pembunuhan atas nama kehormatan.
Salah satu kontribusi terbesarnya adalah mendirikan rumah aman yang melindungi ratusan perempuan dari eksploitasi dan pelecehan.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada 2022, Mohammed menyoroti nasib perempuan Irak yang menjadi korban kelompok bersenjata Islamic State (ISIL).
“Perempuan Muslim-Arab yang diperbudak oleh ISIL dan belum menemukan tempat untuk kembali, mereka masih hidup dalam bayang-bayang masyarakat,” ujarnya saat itu.
Ia juga menyatakan bahwa ribuan perempuan menjadi korban kekerasan ISIL tanpa pengakuan atau kompensasi yang layak dari komunitas internasional.
Ancaman Bertahun-Tahun dan Penghargaan Internasional
Perjuangan Mohammed tidak lepas dari ancaman serius. Front Line Defenders menyebut ia telah menerima ancaman pembunuhan selama beberapa dekade, termasuk dari ISIS dan kelompok bersenjata lainnya.
Meski demikian, ia tetap teguh dalam membela hak perempuan di tengah situasi keamanan yang sangat berbahaya.
Pada 2016, ia menerima Rafto Prize atas dedikasinya memperjuangkan hak perempuan di Irak dalam kondisi yang penuh tantangan. Yayasan Rafto yang berbasis di Norwegia menyatakan “sangat terguncang” atas pembunuhan tersebut.
“Pembunuhan ini bukan hanya serangan terhadap Yanar Mohammed sebagai pribadi, tetapi juga terhadap nilai-nilai fundamental yang telah ia dedikasikan hidupnya untuk membela: kebebasan perempuan, demokrasi, dan hak asasi manusia universal,” kata yayasan tersebut.
Penghormatan dari Komunitas HAM Global
Kelompok hak asasi manusia lain, termasuk Human Rights Watch, menyebut Mohammed sebagai salah satu pembela hak perempuan paling berani di Irak selama lebih dari dua dekade.
Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnes Callamard, menggambarkannya sebagai ikon komunitas hak perempuan.
“Ia menghadapi ancaman terus-menerus, tetapi ia tidak pernah menyerah. Dan hari ini kita menangis dan meratapi energi, komitmen, kemanusiaan yang mendalam, dan keberaniannya yang luar biasa,” ujarnya.
Pembunuhan Yanar Mohammed menjadi pengingat keras atas risiko yang dihadapi para aktivis di wilayah konflik serta pentingnya perlindungan terhadap pembela hak asasi manusia di seluruh dunia. (fntv)

Posting Komentar untuk "Aktivis Perempuan Irak Yanar Mohammed Tewas Ditembak di Baghdad, Dunia Serukan Keadilan"