Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perkembangan Terkini Protes di Iran: Trump Berlakukan Tarif 25 Persen bagi Mitra Dagang Teheran

JAKARTA, Framing NewsTV - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang peta perdagangan global dengan mengumumkan penerapan tarif baru sebesar 25 persen untuk seluruh impor baja dan aluminium ke Amerika Serikat. Kebijakan tersebut diumumkan pada Senin (10/2/2025) dan menjadi tambahan dari bea masuk logam yang telah berlaku sebelumnya, menandai eskalasi terbaru dalam perombakan besar kebijakan perdagangan AS di bawah kepemimpinan Trump.

Trump menegaskan kebijakan tersebut akan diberlakukan tanpa pengecualian. “Semua baja yang masuk ke Amerika Serikat akan dikenakan tarif 25 persen,” ujar Trump kepada para wartawan saat berada di pesawat Air Force One dalam perjalanan dari Florida menuju New Orleans untuk menghadiri Super Bowl pada Minggu (9/2/2025), sebagaimana dilansir Voice of America (VOA). Pernyataan ini mempertegas arah kebijakan proteksionis yang kembali menjadi ciri utama pemerintahan Trump.

Selain kebijakan tarif logam, Trump juga mengaitkan langkah ekonominya dengan situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya Iran. Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menyatakan bahwa negara mana pun yang tetap menjalin hubungan dagang dengan Iran akan dikenakan tarif sebesar 25 persen saat berbisnis dengan Amerika Serikat, dan kebijakan tersebut berlaku segera. Langkah ini dinilai sebagai tekanan ekonomi langsung di tengah gelombang protes besar yang terus mengguncang Iran.

Kebijakan tarif tersebut diumumkan setelah Trump berulang kali melontarkan ancaman akan campur tangan langsung di Iran. Presiden AS itu menegaskan bahwa Washington memiliki berbagai opsi “yang sangat kuat”, termasuk penggunaan kekuatan militer, apabila situasi di Iran berkembang menjadi kekerasan yang meluas. Pernyataan ini disampaikan Trump di tengah laporan bahwa pemerintahannya tengah menjalin komunikasi dengan sejumlah pemimpin oposisi Iran, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, Selasa (13/1/2012).

Dari pihak Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pemerintah Iran saat ini masih “mempelajari” proposal yang dikirimkan oleh Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. “Komunikasi tetap terbuka antara saya dan Utusan Khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff,” ujar Araghchi, seperti dikutip Al Jazeera dalam laporannya.

Namun demikian, Araghchi juga menuding bahwa peringatan keras Trump justru memperkeruh situasi di lapangan. Menurutnya, ancaman tindakan militer dari Amerika Serikat telah memicu kelompok yang ia sebut sebagai “teroris” untuk menargetkan demonstran maupun pasukan keamanan Iran. Ia menilai skenario tersebut sengaja diciptakan guna memancing pertumpahan darah dan membuka jalan bagi intervensi asing.

Di tengah eskalasi konflik yang belum mereda, pemerintah Iran menetapkan tiga hari berkabung nasional untuk mengenang para “martir” yang tewas selama dua pekan gelombang protes berlangsung. Masa berkabung tersebut diberlakukan terutama bagi anggota aparat keamanan yang dilaporkan gugur dalam bentrokan dengan massa demonstran di berbagai wilayah.

Media pemerintah Iran melaporkan lebih dari 100 personel keamanan tewas dalam beberapa hari terakhir. Di sisi lain, kelompok dan aktivis oposisi mengklaim jumlah korban jiwa jauh lebih besar dan mencakup ratusan warga sipil yang ikut dalam aksi demonstrasi. Al Jazeera menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen klaim angka korban dari kedua belah pihak karena keterbatasan akses informasi di lapangan.

Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa tarif baru atas baja dan aluminium tersebut akan ditambahkan ke dalam bea masuk yang telah berlaku sebelumnya. Ia menyebut langkah itu sebagai bagian dari strategi perdagangan yang lebih luas untuk melindungi industri dalam negeri Amerika Serikat.

Trump juga mengumumkan rencana pemberlakuan tarif resiprokal, yakni menaikkan tarif impor Amerika Serikat agar setara dengan tarif yang dikenakan oleh negara mitra dagang. Kebijakan tersebut diumumkan pada Jumat lalu, meski Trump tidak merinci negara mana saja yang akan terdampak. “Kita akan memberlakukan tarif agar kita diperlakukan secara adil oleh negara-negara lain,” ujar Trump.

Pasar keuangan global bereaksi negatif terhadap pengumuman tersebut. Indeks saham Wall Street tercatat melemah setelah Trump pertama kali menyampaikan rencana tarif balasan. Tekanan juga datang dari menurunnya sentimen konsumen di Amerika Serikat, di mana banyak responden menyebut tarif sebagai sumber kekhawatiran utama karena dinilai akan mendorong kenaikan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.

Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan memberlakukan pajak impor sebesar 25 persen untuk seluruh barang dari Kanada dan Meksiko, meskipun kebijakan tersebut ditangguhkan selama 30 hari. Pada saat yang sama, ia tetap melanjutkan penambahan bea masuk sebesar 10 persen untuk impor dari China, memperpanjang ketegangan dagang antara Washington dan Beijing.

Langkah ini mengingatkan pada kebijakan serupa yang pernah diambil Trump pada masa jabatan pertamanya. Pada Maret 2018, Trump memberlakukan tarif baja dan aluminium masing-masing sebesar 25 persen dan 10 persen dengan menggunakan alasan keamanan nasional, sebuah kebijakan yang kala itu juga memicu respons keras dari mitra dagang Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. (fntv)

Posting Komentar untuk "Perkembangan Terkini Protes di Iran: Trump Berlakukan Tarif 25 Persen bagi Mitra Dagang Teheran"