Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menteri Araghchi Tegaskan Iran Siap Berperang Saat Trump Pertimbangkan Opsi Militer

JAKARTA, Framing NewsTV - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Amerika Serikat bahwa Iran siap menghadapi segala skenario, termasuk konflik militer, setelah Presiden AS Donald Trump mengancam opsi militer terkait tindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang protes anti-pemerintah. 
Pernyataan ini disampaikan Araghchi dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera Arabic pada hari Senin, Dilansir Al Jazeera (12/1/2026) menegaskan bahwa saluran komunikasi antara Teheran dan Washington tetap terbuka, namun Iran kini memiliki “kesiapan militer yang besar dan luas” dibandingkan dengan konflik 12 hari tahun sebelumnya.

Komentar keras Araghchi muncul setelah Trump menyatakan sedang mempertimbangkan “opsi-opsi kuat” terhadap Iran, termasuk kemungkinan tindakan militer, seiring protes nasional yang awalnya dipicu oleh kesulitan ekonomi kini berkembang menjadi tuntutan perubahan sistemik di negeri tersebut. Trump, yang baru-baru ini memerintahkan operasi penculikan Presiden Venezuela sayap kiri Nicolas Maduro menggunakan Pasukan Khusus AS, menyebut bahwa pertemuan dengan Iran untuk membahas program nuklir masih dijadwalkan, “tetapi kita mungkin harus bertindak karena apa yang terjadi sebelum pertemuan tersebut,” seperti dilaporkan Al Jazeera.

“Jika Washington ingin menguji opsi militer yang pernah mereka uji sebelumnya, kami siap untuk itu,” ujar Araghchi, seraya menambahkan bahwa AS sebaiknya memilih “opsi bijak” berupa dialog. Ia juga memperingatkan pihak-pihak yang mencoba menyeret Washington ke dalam perang untuk “melayani kepentingan Israel.” Pernyataan ini menegaskan sikap Iran yang bersikeras mempertahankan kedaulatan dan menolak tekanan eksternal melalui ancaman militer, Dilansir Aljazeera, Selasa (13/1/2026)

Dalam wawancara tersebut, Araghchi menyinggung meningkatnya jumlah korban jiwa akibat protes, dan menegaskan bahwa “unsur-unsur teroris” telah menyusup ke kerumunan demonstran untuk menyerang pasukan keamanan dan warga sipil. Ia menuding AS dan Israel sebagai pihak yang memprovokasi kerusuhan yang berlangsung selama dua minggu terakhir. Media pemerintah Iran melaporkan lebih dari 100 personel keamanan tewas dalam beberapa hari terakhir, sementara aktivis oposisi menyebut jumlah korban tewas lebih tinggi, termasuk ratusan demonstran. Al Jazeera belum dapat memverifikasi angka-angka ini secara independen.

Arus informasi di Iran juga terhambat oleh pemadaman internet sejak Kamis lalu. Menteri Luar Negeri Araghchi menyebut bahwa layanan akan dipulihkan secara bertahap dengan koordinasi dinas keamanan. Monitor NetBlocks melaporkan bahwa pada pukul 16:29 GMT pada hari Senin, Iran telah offline selama 96 jam, membatasi akses media dan komunikasi publik.

Araghchi menegaskan komunikasi dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff “berlanjut sebelum dan sesudah protes dan masih berlangsung.” Ia menambahkan bahwa ide-ide yang dibahas dengan Washington sedang dipelajari di Teheran, namun menegaskan bahwa “gagasan dan ancaman yang diajukan Washington terhadap negara kita tidak sesuai.” Araghchi menekankan kesiapan Iran untuk duduk di meja perundingan nuklir, “asalkan tanpa ancaman atau perintah,” sambil mempertanyakan apakah Washington siap untuk “perundingan yang adil dan jujur.”

Selain itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa militer AS dan Israel akan menjadi “target yang sah” jika mencoba campur tangan dalam kerusuhan domestik saat ini, dan menegaskan bahwa Washington tidak boleh membuat kesalahan perhitungan. Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut kepada Fox News bahwa Iran mengirimkan pesan yang “sangat berbeda” secara pribadi dibandingkan pernyataan publiknya.

Wall Street Journal melaporkan bahwa Gedung Putih tengah mempertimbangkan tawaran Iran untuk terlibat dalam pembicaraan militer lebih lanjut, bahkan ketika Trump mengevaluasi kemungkinan serangan. Latar belakang ketegangan ini mengingatkan pada tahun sebelumnya, ketika AS membom situs-situs nuklir Iran terkait perang 12 hari Israel melawan Iran, meningkatkan kekhawatiran internasional tentang eskalasi militer lebih lanjut. (fntv)

Posting Komentar untuk "Menteri Araghchi Tegaskan Iran Siap Berperang Saat Trump Pertimbangkan Opsi Militer"