Gerak Cepat Negara Selamatkan Pangan: Mentan Amran Pulihkan 98 Ribu Hektar Sawah Sumatera Pascabencana
JAKARTA, Framing NewsTV — Pemerintah menegaskan kehadiran negara dalam memulihkan sektor pertanian pascabencana di wilayah Sumatera. Melalui Kementerian Pertanian (Kementan), rehabilitasi lahan sawah terdampak bencana seluas 98 ribu hektare resmi dimulai untuk mengembalikan produksi pangan sekaligus memulihkan pendapatan petani.
Komitmen tersebut ditegaskan langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat melakukan peninjauan dan groundbreaking rehabilitasi sawah yang dipusatkan di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Kamis.
“Ini tanggung jawab kami sebagai Menteri Pertanian dan sebagai Kepala Badan Pangan Nasional. Negara harus hadir ketika petani terdampak bencana,” ujar Andi Amran Sulaiman, dikutip dari keterangan resmi Kementerian Pertanian.
Groundbreaking rehabilitasi lahan sawah di Aceh Utara menjadi penanda dimulainya fase pemulihan pertanian pascabencana di Sumatera. Program ini mencakup perbaikan lahan sawah rusak, rehabilitasi jaringan irigasi, serta pemulihan sarana dan prasarana produksi pertanian agar petani dapat segera kembali menanam.
Menurut Mentan Amran, Aceh menjadi salah satu prioritas karena tingkat kerusakan lahan sawah yang cukup luas serta peran strategis daerah tersebut dalam menjaga produksi pangan regional.
Gerak Cepat Kementan Sejak Bencana Melanda
Mentan Amran menjelaskan, sejak bencana alam melanda sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025, Kementerian Pertanian langsung bergerak cepat melakukan penanganan darurat.
“Begitu kedengaran ada bencana, kami langsung ke Kementerian Pertanian dan meminta seluruh pegawai serta mitra mengeluarkan sedekah terbaiknya untuk saudara-saudara kita di Sumatera,” kata Amran.
Dari gerakan solidaritas internal tersebut, terkumpul donasi sebesar Rp 75 miliar yang berasal dari gaji pegawai dan sedekah keluarga besar Kementerian Pertanian, termasuk dukungan dari Komisi IV DPR RI.
Bantuan Pangan Sesuai Arahan Presiden
Selain bantuan dari internal Kementan, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan skala besar sesuai arahan Presiden RI. Mentan Amran menegaskan bahwa bantuan dikirim tanpa menunggu prosedur administratif yang berlarut-larut.
“Bapak Presiden memerintahkan, kirim bantuan dan jangan menunggu surat. Itu sudah menjadi tanggung jawab kami,” ujarnya.
Total Kerusakan Capai 98 Ribu Hektare
Memasuki fase rehabilitasi, Kementan mencatat total kerusakan lahan sawah akibat bencana alam di tiga provinsi mencapai 98.002 hektare. Rinciannya, Aceh mengalami kerusakan terluas yakni 54.233 hektare di 21 kabupaten/kota, Sumatera Utara seluas 37.318 hektare di 15 kabupaten/kota, serta Sumatera Barat seluas 6.451 hektare di 14 kabupaten/kota.
Dari total tersebut, kerusakan dengan kategori ringan hingga sedang mencapai 69.240 hektare, terdiri dari kerusakan ringan 48.969 hektare dan kerusakan sedang 20.271 hektare.
Aceh Utara Jadi Salah Satu Fokus Pemulihan
Khusus di Kabupaten Aceh Utara, total kerusakan lahan sawah dengan kategori ringan hingga sedang tercatat seluas 8.237 hektare. Rinciannya, kerusakan ringan seluas 5.950 hektare dan kerusakan sedang 2.287 hektare.
Wilayah ini menjadi salah satu fokus rehabilitasi tahap awal agar musim tanam berikutnya dapat berjalan optimal.
Target Rehabilitasi Januari–Februari 2026
Kementan memprioritaskan rehabilitasi pada lahan sawah dengan tingkat kerusakan ringan dan sedang. Pelaksanaan tahap awal ditargetkan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026 dengan target rehabilitasi seluas 13.708 hektare di tiga provinsi.
Target tersebut meliputi Aceh seluas 6.530 hektare, Sumatera Utara 6.593 hektare, dan Sumatera Barat 3.624 hektare.
“Kami mulai dari yang ringan dan sedang, baru terakhir yang berat. Sekitar 90 sampai 95 persen akan kami selesaikan lebih dulu,” tegas Mentan Amran.
Padat Karya, Petani Tetap Berpenghasilan
Di Aceh, rehabilitasi sawah dilaksanakan dengan skema padat karya. Petani pemilik sawah dilibatkan langsung dalam proses pemulihan lahannya sendiri dan dibayar oleh pemerintah pusat.
“Rakyat yang bekerja, yang punya sawah bekerja. Upahnya dibayar oleh pusat. Jadi mereka mengerjakan lahannya sendiri,” jelas Amran.
Skema ini diharapkan mampu menjaga pendapatan petani sekaligus mempercepat pemulihan lahan.
Anggaran Ratusan Miliar untuk Rehabilitasi
Dari sisi pembiayaan, Kementerian Pertanian telah menyiapkan anggaran eksisting rehabilitasi lahan sawah nasional seluas 10.000 hektare senilai Rp 148,53 miliar. Anggaran ini direvisi dan dialokasikan untuk rehabilitasi lahan dengan kerusakan sedang di wilayah terdampak.
Selain itu, tersedia anggaran optimasi lahan sebesar Rp 310 miliar untuk menangani rehabilitasi lahan dengan kerusakan ringan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Kegiatan rehabilitasi meliputi perapihan pematang sawah, normalisasi saluran irigasi tersier, primer, dan sekunder, perbaikan bangunan irigasi seperti pintu air dan box bagi, serta pekerjaan olah lahan.
Bantuan Sarana Produksi Pertanian Disalurkan
Sebagai dukungan konkret, Kementan juga menyalurkan berbagai bantuan sarana produksi pertanian, mulai dari pupuk, benih, alat dan mesin pertanian, hingga bantuan sembako bagi petani terdampak.
“Kepada Pak Gubernur kami berjanji dan janji itu kami tunaikan. Bantuan sudah kami kirim, traktor sudah kami kirim,” kata Mentan Amran.
Pemerintah berharap rehabilitasi ini mampu mempercepat pemulihan sektor pertanian, mengembalikan produktivitas sawah, dan menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tantangan bencana alam. (fntv)

Posting Komentar untuk "Gerak Cepat Negara Selamatkan Pangan: Mentan Amran Pulihkan 98 Ribu Hektar Sawah Sumatera Pascabencana"