Retorika Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Soal Perang Iran Menuai Kritik, Dikhawatirkan Memicu Narasi Perang Agama
JAKARTA, Framing NewsTV – Kritik terhadap Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth semakin meningkat sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Sejumlah pengamat, veteran militer, dan akademisi menilai retorika agresif yang disampaikan Hegseth berpotensi membingkai konflik tersebut sebagai perang yang bermuatan ideologi bahkan agama.
Beberapa pernyataan publik Hegseth selama tahap awal konflik menjadi sorotan luas. Banyak pihak menilai bahasa yang digunakan oleh kepala Pentagon tersebut tidak mencerminkan kehati-hatian yang biasanya diharapkan dari seorang pejabat tinggi militer saat menghadapi konflik internasional besar.
Pernyataan Agresif Soal Operasi Militer
Dalam sebuah pengarahan kepada wartawan di Pentagon dekat Washington, Hegseth menggunakan bahasa yang sangat keras ketika menggambarkan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Ia menyebut operasi militer tersebut sebagai serangan yang akan membawa “kematian dan kehancuran dari langit sepanjang hari”. Hegseth juga menegaskan bahwa operasi tersebut tidak pernah dimaksudkan sebagai pertarungan yang seimbang.
Menurutnya, strategi militer Amerika memang dirancang untuk menyerang ketika lawan berada dalam posisi lemah. Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan luas di kalangan pengamat militer dan politik luar negeri.
Banyak pihak menilai komentar semacam itu dapat memperburuk persepsi internasional terhadap konflik yang sedang berlangsung.
Kritik dari Veteran dan Pengamat
Sejumlah organisasi veteran militer Amerika turut mengkritik gaya komunikasi Hegseth yang dianggap terlalu provokatif.
Janessa Goldbeck, kepala organisasi nirlaba Vet Voice Foundation, menyampaikan kritik tajam terhadap sosok Menteri Pertahanan tersebut. Ia menilai pandangan Hegseth berpotensi menimbulkan konsekuensi berbahaya bagi kebijakan militer Amerika Serikat.
Goldbeck bahkan menggambarkan Hegseth sebagai figur yang berbahaya karena memiliki akses terhadap kekuatan militer besar Amerika Serikat.
Selain itu, ia juga mengkritik citra publik Hegseth yang menurutnya masih mencerminkan gaya seorang pembawa acara televisi ketimbang seorang pemimpin militer.
Menurut Goldbeck, gaya komunikasi Hegseth sering terdengar seperti retorika “macho” yang lebih cocok untuk televisi daripada untuk mengelola konflik bersenjata yang kompleks.
Latar Belakang Karier Pete Hegseth
Pete Hegseth lahir di Minneapolis dan menempuh pendidikan ilmu politik di Universitas Princeton. Setelah lulus, ia bergabung dengan Garda Nasional Angkatan Darat Amerika Serikat sebagai perwira infanteri.
Selama karier militernya, Hegseth pernah menjalani penugasan di beberapa lokasi, termasuk Teluk Guantánamo serta operasi militer di Irak dan Afghanistan.
Setelah meninggalkan tugas aktif, ia menjadi pemimpin organisasi advokasi konservatif Concerned Veterans for America. Namun, ia mengundurkan diri dari organisasi tersebut pada 2016 di tengah sejumlah tuduhan terkait pengelolaan keuangan dan masalah pribadi.
Karier publiknya kemudian berlanjut di dunia media sebagai pembawa acara televisi di Fox News. Di sana, ia menjadi salah satu komentator yang sering membela kebijakan Presiden Donald Trump.
Setelah kemenangan Trump dalam pemilihan presiden 2024, Hegseth dinominasikan untuk menjabat sebagai Menteri Pertahanan Amerika Serikat.
Proses konfirmasi di Senat berlangsung sangat ketat dengan hasil pemungutan suara imbang 50-50. Wakil Presiden JD Vance akhirnya memberikan suara penentu yang memungkinkan Hegseth menduduki jabatan tersebut.
Retorika Perang yang Kontroversial
Sejak dimulainya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, Hegseth terus menggunakan bahasa yang sangat keras dalam berbagai pernyataan publik.
Dalam salah satu konferensi pers di Pentagon, ia menyatakan bahwa para pemimpin Iran “sudah tamat” dan menyebut kemenangan Amerika Serikat sebagai sesuatu yang “telak, menghancurkan, dan tanpa ampun”.
Komentar tersebut memicu kritik lanjutan dari berbagai kalangan yang menilai bahwa retorika tersebut berpotensi memperkeruh situasi geopolitik.
Ketegangan semakin meningkat ketika Hegseth menanggapi kematian enam anggota pasukan cadangan Angkatan Darat AS akibat serangan pesawat nirawak di sebuah pusat operasi di Kuwait.
Dalam pernyataannya, ia mengkritik pemberitaan media yang menurutnya terlalu menyoroti insiden tersebut.
Reaksi Keras dari Akademisi dan Mantan Pejabat
Jeremy Varon, profesor sejarah di The New School for Social Research, menyebut pernyataan Hegseth sebagai sesuatu yang keterlaluan.
Menurutnya, media memiliki tanggung jawab untuk melaporkan dan menghormati korban yang meninggal dalam konflik militer. Ia menilai tidak pantas jika tragedi tersebut dianggap sebagai upaya media untuk menjatuhkan presiden.
Sementara itu, mantan pejabat Gedung Putih Brett Bruen juga mempertanyakan kesesuaian Hegseth dalam memimpin Pentagon.
Ia menilai bahwa masyarakat Amerika dan sekutu internasional membutuhkan kepemimpinan yang stabil dan penuh perhitungan di tengah situasi perang.
Menurut Bruen, yang dibutuhkan saat ini adalah strategi yang matang dan komunikasi yang menenangkan, bukan retorika penuh kesombongan.
Kekhawatiran Soal Simbolisme Keagamaan
Selain retorika militer, beberapa pengamat juga menyoroti simbolisme keagamaan yang dikaitkan dengan Hegseth.
Foto-foto yang beredar menunjukkan bahwa ia memiliki tato salib Yerusalem serta frasa Latin “Deus vult” yang secara historis terkait dengan Perang Salib abad pertengahan.
Dalam bukunya yang terbit pada tahun 2020 berjudul American Crusade, Hegseth juga menulis pandangan tentang pentingnya mempertahankan apa yang ia sebut sebagai “peradaban Barat”.
Sejumlah peneliti khawatir narasi semacam itu dapat memperkuat persepsi bahwa konflik geopolitik sedang dibingkai sebagai konflik agama.
Risiko Konflik Dipersepsikan sebagai Perang Suci
Robert P. Jones, presiden Public Religion Research Institute, mengatakan bahwa pernyataan dan simbolisme yang digunakan Hegseth tidak dapat dianggap sebagai kejadian yang terpisah.
Menurutnya, pola retorika tersebut menunjukkan kecenderungan ideologis yang konsisten dalam pandangan publik Hegseth selama bertahun-tahun.
Jones memperingatkan bahwa narasi semacam itu berpotensi mengubah konflik geopolitik menjadi konflik yang dipandang sebagai perang antara agama.
Ia menilai hal tersebut berbahaya karena dapat memperluas konflik dan meningkatkan sentimen sektarian di berbagai wilayah.
Kekhawatiran dari Kelompok Keagamaan
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh Doug Pagitt, pemimpin organisasi Kristen progresif Vote Common Good.
Ia berpendapat bahwa pandangan dunia Hegseth cenderung menggambarkan militer Amerika sebagai alat untuk mencapai tujuan ideologis tertentu.
Menurut Pagitt, dalam pandangan tersebut militer tidak hanya dipandang sebagai institusi negara, tetapi juga sebagai sarana untuk mewujudkan agenda religius dalam politik global.
Pandangan semacam ini dinilai berisiko memperdalam ketegangan antara negara-negara dengan latar belakang agama berbeda, terutama di kawasan Timur Tengah yang sudah lama menghadapi konflik geopolitik kompleks. (fntv)
Sumber: Kantor Berita Al Mayadeen

Posting Komentar untuk "Retorika Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Soal Perang Iran Menuai Kritik, Dikhawatirkan Memicu Narasi Perang Agama"