AS Umumkan Serangan Skala Besar ke Basis ISIS di Suriah, Balasan atas Tewasnya 3 Warga Amerika
JAKARTA, Framing NewsTV – Militer Amerika Serikat (AS) bersama pasukan sekutunya mengumumkan telah melancarkan serangan skala besar terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di wilayah Suriah. Serangan ini dilakukan sebagai respons langsung atas tewasnya tiga warga negara AS dalam insiden mematikan yang terjadi pada Desember 2025.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM), yang mengawasi seluruh operasi militer AS di kawasan Timur Tengah termasuk Suriah, menyatakan bahwa serangan tersebut menyasar sejumlah target ISIS di berbagai wilayah.
“Pasukan AS dan mitra koalisi telah melaksanakan beberapa serangan yang menargetkan ISIS di seluruh Suriah,” demikian pernyataan CENTCOM dalam unggahan resminya di media sosial, dikutip Minggu, 11 Januari 2026.
Meski demikian, CENTCOM tidak merinci secara detail lokasi spesifik dari serangan tersebut dengan alasan keamanan operasional.
Operasi Hawkeye Strike sebagai Aksi Balasan
Menurut CENTCOM, rangkaian serangan ini merupakan bagian dari Operasi Hawkeye Strike, sebuah operasi militer yang diluncurkan sebagai aksi pembalasan langsung terhadap serangan ISIS yang menewaskan personel Amerika dan sekutunya di wilayah Palmyra, Suriah.
“Operasi ini diluncurkan sebagai respons langsung terhadap serangan ISIS yang mematikan terhadap pasukan AS dan Suriah di Palmyra,” tulis CENTCOM dalam pernyataan resminya.
Palmyra diketahui merupakan wilayah strategis yang masih rawan dan menjadi salah satu area persembunyian sisa-sisa kekuatan ISIS di kawasan gurun Suriah.
Korban Tewas dalam Serangan Desember 2025
Insiden yang memicu operasi besar-besaran ini terjadi pada 13 Desember 2025. Saat itu, dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil AS tewas setelah diserang seorang penembak tunggal di Palmyra. Washington menuding pelaku merupakan militan ISIS.
Namun, Kementerian Dalam Negeri Suriah memberikan versi berbeda. Pemerintah Suriah menyatakan bahwa penyerang tersebut adalah anggota pasukan keamanan Suriah yang akan diberhentikan dari jabatannya karena terpapar paham ekstremisme.
Pernyataan Menteri Pertahanan AS
Menanggapi operasi militer tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan melupakan korban dan tidak akan mundur dalam memerangi terorisme.
“Kami tidak akan pernah lupa, dan kami tidak akan pernah menyerah,” ujar Pete Hegseth dalam unggahan di media sosialnya, merespons pernyataan resmi CENTCOM, dikutip AFP, 11 Januari 2026.
Trump: Akan Ada Pembalasan Sangat Serius
Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan kemarahannya atas insiden tersebut. Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menyebut serangan itu sebagai aksi teror ISIS terhadap Amerika Serikat dan Suriah.
“Kami berduka atas kehilangan tiga patriot Amerika yang hebat di Suriah, dua tentara dan satu penerjemah sipil. Kami juga berdoa bagi tiga tentara lain yang terluka dan kini dilaporkan dalam kondisi baik,” tulis Donald Trump, dikutip AFP.
Trump menegaskan bahwa serangan tersebut tidak akan dibiarkan tanpa balasan.
“Ini adalah serangan ISIS terhadap AS dan Suriah, di wilayah yang sangat berbahaya dan tidak sepenuhnya terkendali. Akan ada pembalasan yang sangat serius,” tegas Trump.
ISIS Masih Jadi Ancaman
Kelompok ISIS sempat menguasai sebagian besar wilayah Suriah dan Irak pada 2014, memanfaatkan kekacauan akibat perang saudara. Meski secara teritorial ISIS telah dikalahkan pada 2019, para pejuangnya masih bertahan dan melakukan serangan sporadis, terutama di wilayah gurun dan daerah terpencil.
Amerika Serikat dan sekutunya terus menegaskan komitmen untuk mencegah kebangkitan kembali ISIS, sekaligus melindungi personel militer dan kepentingan strategis mereka di kawasan Timur Tengah. (fntv)
Sumber: AFP, US Central Command (CENTCOM)

Posting Komentar untuk "AS Umumkan Serangan Skala Besar ke Basis ISIS di Suriah, Balasan atas Tewasnya 3 Warga Amerika"