Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Popularitas Trump Anjlok Tajam, Perang Iran dan Tekanan Ekonomi Jadi Pemicu

JAKARTA, Framing NewsTV — Tingkat popularitas Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan merosot ke titik terendah sepanjang masa jabatannya, seiring meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap perang di Iran dan memburuknya kondisi ekonomi domestik. Laporan ini disampaikan oleh The Economist pada Kamis.

Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang dilakukan bersama YouGov, tingkat persetujuan bersih terhadap Trump berada di angka -20. Data tersebut menunjukkan hanya 36% responden yang menyetujui kinerjanya, sementara 57% menyatakan tidak puas. “Angka ini menandai penurunan signifikan dibandingkan minggu-minggu sebelumnya,” tulis laporan The Economist.

Laporan tersebut menyoroti bahwa konflik dengan Iran menjadi salah satu faktor utama penurunan dukungan publik. “Hanya 28% warga Amerika yang mendukung perang tersebut, sementara 59% menentangnya,” demikian hasil survei YouGov/The Economist yang diperbarui pada 2 April.

Selain faktor geopolitik, tekanan ekonomi turut memperburuk persepsi publik. Perang disebut telah memicu kenaikan harga energi, dengan harga bensin melampaui $4 per galon untuk pertama kalinya sejak 2022. Kondisi ini berdampak luas pada inflasi, termasuk sektor transportasi dan manufaktur, sehingga meningkatkan harga barang secara keseluruhan.

Isu ekonomi menjadi perhatian utama masyarakat. Dalam survei tersebut, hanya 14% responden yang menilai kondisi ekonomi membaik. Data ini mencerminkan menurunnya kepercayaan publik terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah di tengah situasi global yang tidak stabil.

Ketidakpuasan juga terlihat di berbagai kelompok demografis. Dukungan terhadap Trump relatif lebih kuat di kalangan pemilih kulit putih dan laki-laki, namun melemah tajam di kalangan pemilih muda, minoritas etnis, serta kelompok berpendidikan tinggi. Pemilih di bawah usia 30 tahun dan warga kulit hitam tercatat memiliki tingkat ketidakpuasan paling tinggi.

Secara geografis, tingkat persetujuan masih lebih tinggi di wilayah basis Partai Republik, namun penurunan dukungan juga mulai terlihat di sejumlah negara bagian yang sebelumnya mendukung Trump dalam pemilu 2024. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan tidak lagi terbatas pada basis oposisi.

Dalam aspek kebijakan, penanganan isu imigrasi oleh Trump mendapat penilaian relatif lebih baik dibandingkan sektor lain, meski tetap berada di zona negatif. Keputusannya memecat Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem juga mendapat dukungan mayoritas responden dalam survei tersebut.

Situasi ini turut menimbulkan tekanan politik terhadap Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu. Sejumlah anggota parlemen mulai menyuarakan kekhawatiran terkait arah konflik dengan Iran. Mereka memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut, terutama jika melibatkan pengerahan pasukan darat, dapat memicu konflik berkepanjangan serta berdampak negatif secara politik di dalam negeri.

Beberapa pihak juga menilai bahwa meningkatnya korban, ketidakjelasan tujuan perang, serta dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat berpotensi menggerus dukungan terhadap Trump, baik di Kongres maupun di kalangan pemilihnya sendiri. (fntv)

Posting Komentar untuk "Popularitas Trump Anjlok Tajam, Perang Iran dan Tekanan Ekonomi Jadi Pemicu"