AS Jawab Pesan Paus Leo soal Yesus Tolak Doa Orang yang Picu Perang
JAKARTA, Framing NewsTV — Pemerintah Amerika Serikat merespons pernyataan Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Leo XIV, yang menyebut bahwa Tuhan Yesus tidak akan mendengarkan doa dari pihak yang memicu perang. Pernyataan tersebut disampaikan Paus di tengah meningkatnya konflik antara Israel dan Iran yang turut melibatkan Amerika Serikat.
Paus Leo XIV menyampaikan pesan tersebut di hadapan puluhan ribu umat Katolik saat perayaan Palm Sunday di St. Peter's Square, Vatikan, pada Minggu (29/3).
Dalam khotbahnya, Paus menegaskan bahwa ajaran Yesus tidak pernah membenarkan perang dalam bentuk apa pun.
“Inilah Tuhan kita, Yesus Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang,” ujar Paus Leo XIV, dikutip dari Reuters.
Ia juga mengutip ayat Alkitab untuk menegaskan sikap tersebut.
“(Yesus) tidak mendengarkan doa orang-orang yang memicu perang, tetapi menolaknya, dengan mengatakan, ‘sekalipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan, tanganmu penuh darah,’” lanjutnya.
Menanggapi pernyataan tersebut, pihak Gedung Putih melalui juru bicaranya, Karoline Leavitt, memberikan pandangan berbeda terkait peran doa dalam konteks militer dan kepemimpinan negara.
“Negara kita adalah negara yang didirikan hampir 250 tahun lalu, hampir sepenuhnya berdasarkan nilai-nilai Yudaisme-Kristiani. Kita sudah menyaksikan para presiden, para pemimpin Kementerian Perang, dan para tentara kita berdoa di masa-masa paling bergejolak dalam sejarah bangsa kita,” kata Leavitt, dikutip dari Newsweek.
Ia menambahkan bahwa praktik doa di kalangan militer merupakan hal yang wajar dan justru memberikan dukungan moral bagi para prajurit.
“Saya rasa tidak ada yang salah dengan para pemimpin militer kami atau dengan presiden yang menyerukan rakyat Amerika untuk berdoa bagi para anggota militer kita di luar negeri,” ujarnya.
Leavitt juga menegaskan bahwa banyak personel militer menghargai dukungan doa dari masyarakat.
“Jika Anda berbicara dengan begitu banyak personel militer, mereka menghargai doa dan bahkan didukung para komandan militer serta kabinet,” tambahnya.
Pernyataan ini menunjukkan perbedaan perspektif antara pendekatan moral keagamaan yang disampaikan Paus dan realitas praktik dalam kebijakan militer.
Dalam khotbahnya, Paus Leo XIV juga mengingatkan kembali kisah menjelang penyaliban Yesus Kristus sebagaimana tertulis dalam Alkitab.
Ia menuturkan bahwa Yesus menolak kekerasan bahkan ketika menghadapi ancaman langsung.
“(Yesus) tidak mempersenjatai diri, tidak membela diri, dan tidak berperang. Ia menyingkapkan wajah Tuhan yang penuh kelembutan, yang selalu menolak kekerasan,” ungkap Paus.
Ia menambahkan bahwa Yesus memilih jalan pengorbanan dibandingkan perlawanan bersenjata.
“Alih-alih menyelamatkan diri, Ia membiarkan diri-Nya disalibkan,” pungkasnya.
Pernyataan Paus Leo XIV dan respons dari Amerika Serikat mencerminkan perdebatan moral yang lebih luas terkait perang, agama, dan legitimasi kekuasaan.
Di tengah konflik global yang terus meningkat, pesan-pesan keagamaan tentang perdamaian kembali menjadi sorotan, sekaligus menimbulkan diskusi tentang peran spiritual dalam kebijakan politik dan militer.(fntv)
Paus Leo XIV menyampaikan pesan tersebut di hadapan puluhan ribu umat Katolik saat perayaan Palm Sunday di St. Peter's Square, Vatikan, pada Minggu (29/3).
Dalam khotbahnya, Paus menegaskan bahwa ajaran Yesus tidak pernah membenarkan perang dalam bentuk apa pun.
“Inilah Tuhan kita, Yesus Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang,” ujar Paus Leo XIV, dikutip dari Reuters.
Ia juga mengutip ayat Alkitab untuk menegaskan sikap tersebut.
“(Yesus) tidak mendengarkan doa orang-orang yang memicu perang, tetapi menolaknya, dengan mengatakan, ‘sekalipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan, tanganmu penuh darah,’” lanjutnya.
Menanggapi pernyataan tersebut, pihak Gedung Putih melalui juru bicaranya, Karoline Leavitt, memberikan pandangan berbeda terkait peran doa dalam konteks militer dan kepemimpinan negara.
“Negara kita adalah negara yang didirikan hampir 250 tahun lalu, hampir sepenuhnya berdasarkan nilai-nilai Yudaisme-Kristiani. Kita sudah menyaksikan para presiden, para pemimpin Kementerian Perang, dan para tentara kita berdoa di masa-masa paling bergejolak dalam sejarah bangsa kita,” kata Leavitt, dikutip dari Newsweek.
Ia menambahkan bahwa praktik doa di kalangan militer merupakan hal yang wajar dan justru memberikan dukungan moral bagi para prajurit.
“Saya rasa tidak ada yang salah dengan para pemimpin militer kami atau dengan presiden yang menyerukan rakyat Amerika untuk berdoa bagi para anggota militer kita di luar negeri,” ujarnya.
Leavitt juga menegaskan bahwa banyak personel militer menghargai dukungan doa dari masyarakat.
“Jika Anda berbicara dengan begitu banyak personel militer, mereka menghargai doa dan bahkan didukung para komandan militer serta kabinet,” tambahnya.
Pernyataan ini menunjukkan perbedaan perspektif antara pendekatan moral keagamaan yang disampaikan Paus dan realitas praktik dalam kebijakan militer.
Dalam khotbahnya, Paus Leo XIV juga mengingatkan kembali kisah menjelang penyaliban Yesus Kristus sebagaimana tertulis dalam Alkitab.
Ia menuturkan bahwa Yesus menolak kekerasan bahkan ketika menghadapi ancaman langsung.
“(Yesus) tidak mempersenjatai diri, tidak membela diri, dan tidak berperang. Ia menyingkapkan wajah Tuhan yang penuh kelembutan, yang selalu menolak kekerasan,” ungkap Paus.
Ia menambahkan bahwa Yesus memilih jalan pengorbanan dibandingkan perlawanan bersenjata.
“Alih-alih menyelamatkan diri, Ia membiarkan diri-Nya disalibkan,” pungkasnya.
Pernyataan Paus Leo XIV dan respons dari Amerika Serikat mencerminkan perdebatan moral yang lebih luas terkait perang, agama, dan legitimasi kekuasaan.
Di tengah konflik global yang terus meningkat, pesan-pesan keagamaan tentang perdamaian kembali menjadi sorotan, sekaligus menimbulkan diskusi tentang peran spiritual dalam kebijakan politik dan militer.(fntv)

Posting Komentar untuk "AS Jawab Pesan Paus Leo soal Yesus Tolak Doa Orang yang Picu Perang"