Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penasihat Trump Diam-diam Mendesak Agar Perang Melawan Iran Segera Dihentikan di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Tekanan Politik di AS

JAKARTA, Framing NewsTV – Sejumlah penasihat dekat Presiden Donald Trump dilaporkan secara pribadi mendesaknya untuk mulai merencanakan strategi keluar dari konflik militer dengan Iran. Desakan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai lonjakan harga minyak dunia serta potensi dampak politik dari perang yang berkepanjangan, sebagaimana dilaporkan oleh The Wall Street Journal.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa tekanan politik dan ekonomi mulai dirasakan di Washington seiring konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya terus berlanjut di kawasan Timur Tengah.

Trump Isyaratkan Perang Bisa Segera Berakhir

Dalam pernyataannya kepada wartawan di negara bagian Florida pada Senin, Trump mengisyaratkan bahwa perang mungkin tidak akan berlangsung lama.

Ia mengatakan bahwa operasi militer yang sedang berlangsung telah mencapai sebagian besar tujuan yang diharapkan oleh pemerintahannya.

“Kita jauh lebih cepat dari jadwal,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa ia yakin konflik tersebut bisa segera berakhir jika perkembangan di lapangan terus berjalan sesuai rencana.

Meski demikian, pernyataan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pandangan para pejabat senior di dalam pemerintahan.

Penarikan Cepat Dinilai Sulit

Menurut laporan media tersebut, sejumlah pejabat senior pemerintahan menilai bahwa penarikan pasukan Amerika Serikat dari konflik saat ini tidak mudah dilakukan dalam waktu dekat.

Para pejabat tersebut menyebut bahwa serangan Iran terhadap posisi militer Amerika Serikat dan target regional masih terus berlangsung.

Selain itu, kesiapan militer Israel untuk melanjutkan serangan terhadap fasilitas Iran juga dinilai dapat memperumit setiap upaya Washington untuk mengakhiri keterlibatan militernya secara cepat.

Situasi ini membuat pemerintah Amerika Serikat berada dalam dilema antara mempertahankan tekanan militer atau mencari jalan keluar diplomatik.

Ancaman terhadap Jalur Energi Global

Trump juga menegaskan bahwa opsi militer tambahan masih tetap terbuka jika Iran mengganggu jalur energi global.

Ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan melanjutkan operasi militer terhadap Iran apabila negara tersebut mencoba menghalangi pengiriman minyak yang melintasi Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia karena menjadi rute utama pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak global.

Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memicu gejolak besar di pasar energi internasional.

Kekhawatiran Politik di Lingkaran Trump

Di balik pernyataan publik tersebut, sejumlah penasihat Trump disebut telah mendorong presiden untuk secara terbuka mempresentasikan strategi yang jelas untuk mengakhiri perang.

Mereka berpendapat bahwa militer Amerika Serikat telah mencapai kemajuan operasional yang signifikan sehingga pemerintah dapat mulai merancang tahap akhir operasi.

Kekhawatiran tersebut semakin meningkat ketika harga minyak dunia melonjak melewati angka 100 dolar per barel.

Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Partai Republik mengenai dampak ekonomi perang serta potensi pengaruhnya terhadap pemilihan umum mendatang.

Dukungan Publik terhadap Perang Menurun

Data jajak pendapat yang ditinjau oleh pemerintah juga menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika kini menentang perang tersebut.

Informasi ini disampaikan oleh sejumlah sumber yang mengetahui diskusi internal di pemerintahan.

Penurunan dukungan publik tersebut mendorong beberapa tokoh dalam lingkaran politik Trump untuk menyusun strategi komunikasi yang lebih kuat guna menjelaskan kepada masyarakat alasan di balik operasi militer tersebut.

Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan bahwa Trump berencana melanjutkan operasi sampai ia dapat mengumumkan hasil yang jelas yang menguntungkan Amerika Serikat.

“Trump tidak akan berhenti berjuang sampai dia bisa mengklaim kemenangan yang memuaskan,” ujar pejabat tersebut.

Gedung Putih Bantah Ada Perpecahan Internal

Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membantah laporan yang menyebut adanya perpecahan internal dalam pemerintahan terkait perang tersebut.

Ia menilai laporan media yang mengutip sumber anonim tidak mencerminkan situasi sebenarnya di lingkaran pemerintahan.

“Kisah ini penuh omong kosong dari sumber anonim yang, saya jamin, tidak berada di ruangan yang sama dengan Presiden Trump,” kata Leavitt.

Ia juga menegaskan bahwa para pembantu utama presiden saat ini tetap fokus untuk memastikan operasi militer yang disebut “Epic Fury” berjalan sesuai rencana.

Dampak Perang pada Pasar Global

Perdebatan internal di Washington terjadi di tengah meningkatnya gejolak di pasar keuangan global akibat konflik tersebut.

Pasar energi mengalami volatilitas yang signifikan, dengan harga minyak mentah sempat menembus angka 100 dolar per barel.

Kenaikan harga ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat mengganggu pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

Lonjakan harga energi tersebut juga berdampak pada pasar keuangan global, termasuk memicu aksi jual di pasar saham serta meningkatkan kekhawatiran mengenai tekanan inflasi yang kembali meningkat.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan terhadap ekspor energi dari kawasan Teluk dapat mendorong harga minyak naik lebih tinggi lagi, yang pada akhirnya akan meningkatkan biaya bagi konsumen dan pelaku usaha di berbagai negara serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global. (fntv)

Sumber: Kantor Berita Al Mayadeen/Wall Street Journal

Posting Komentar untuk "Penasihat Trump Diam-diam Mendesak Agar Perang Melawan Iran Segera Dihentikan di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Tekanan Politik di AS"