Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Majelis Pakar Iran Pilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Baru, Gantikan Ayahnya Ali Khamenei

JAKARTA, Framing NewsTV – Majelis Pakar Iran secara resmi mengumumkan terpilihnya Sayyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang wafat di tengah eskalasi konflik militer yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Pengumuman tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi Majelis Pakar kepada rakyat Iran. Dalam pernyataan itu, dewan menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ali Khamenei serta para korban lain dari konflik yang sedang berlangsung, termasuk sejumlah komandan militer Iran dan para siswa dari sekolah Shajarat Tayyiba di kota Minab, Iran selatan.

Majelis Pakar juga mengutuk apa yang mereka sebut sebagai agresi brutal yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa negara itu tengah menghadapi tekanan militer yang berat, namun tetap berkomitmen menjaga kesinambungan kepemimpinan nasional.

Majelis Pakar Bertindak Cepat di Tengah Situasi Perang

Dalam pernyataannya, Majelis Pakar menegaskan bahwa proses pemilihan pemimpin baru dilakukan dengan cepat untuk memastikan tidak terjadi kekosongan kepemimpinan negara, terutama dalam kondisi konflik militer yang masih berlangsung.

Dewan tersebut menyatakan bahwa mereka tetap menjalankan tugas konstitusional meskipun berada dalam situasi darurat keamanan. Bahkan, menurut pernyataan resmi tersebut, kantor Sekretariat Majelis Pakar sempat menjadi target pemboman yang mengakibatkan beberapa pegawai gugur.

Meski menghadapi ancaman langsung dari serangan musuh, Majelis Pakar menegaskan bahwa proses pemilihan pemimpin baru tidak pernah berhenti.

“Dewan tidak berhenti sejenak pun dalam proses pemilihan dan pengajuan pemimpin baru untuk sistem Islam,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Langkah cepat ini dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas politik Iran di tengah tekanan eksternal yang semakin meningkat.

Sidang Luar Biasa Digelar untuk Mencegah Kekosongan Kepemimpinan

Majelis Pakar kemudian mengadakan sidang luar biasa sesuai dengan ketentuan konstitusi Iran. Sidang darurat ini digelar untuk memastikan proses suksesi kepemimpinan berjalan sesuai mekanisme hukum negara.

Dalam pernyataan resminya, dewan menjelaskan bahwa koordinasi dilakukan secara intensif untuk menghadirkan para perwakilan dari berbagai wilayah Iran, meskipun kondisi keamanan sedang tidak stabil akibat konflik bersenjata.

Langkah tersebut dilakukan agar proses pemilihan pemimpin baru tetap memiliki legitimasi konstitusional serta dukungan penuh dari anggota Majelis Pakar yang berasal dari berbagai provinsi.

Dengan demikian, transisi kepemimpinan dapat berlangsung tanpa gangguan meskipun negara berada dalam situasi darurat.

Penegasan Prinsip Wilayat al-Faqih

Majelis Pakar juga menegaskan kembali komitmen mereka terhadap prinsip Wilayat al-Faqih atau Perwalian Ulama yang menjadi fondasi sistem politik Republik Islam Iran.

Konsep ini merupakan doktrin utama dalam sistem pemerintahan Iran yang memberikan otoritas tertinggi kepada seorang ulama untuk memimpin negara selama masa yang disebut sebagai era gaibnya Imam Mahdi dalam keyakinan Syiah.

Dalam pernyataannya, Majelis Pakar menyampaikan penghormatan terhadap perjalanan panjang kepemimpinan Republik Islam yang telah berlangsung selama hampir lima dekade.

Dewan tersebut menyebut bahwa sistem kepemimpinan yang berlandaskan Wilayat al-Faqih telah menjaga martabat, kemerdekaan, serta kekuatan Iran sejak revolusi Islam tahun 1979.

Mojtaba Khamenei Resmi Dipilih Sebagai Pemimpin Ketiga Iran

Setelah melalui proses pertimbangan yang disebut sebagai “cermat dan mendalam”, Majelis Pakar akhirnya menyepakati pemilihan Sayyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Republik Islam Iran.

Mojtaba Khamenei dipilih oleh mayoritas anggota Majelis Pakar dalam sidang luar biasa tersebut.

“Atas dasar kewajiban agama dan rasa tanggung jawab di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, dewan mengumumkan dalam pertemuan luar biasa hari ini pemilihan Sayyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran,” demikian bunyi pernyataan resmi Majelis Pakar.

Pemilihan ini menandai transisi kepemimpinan yang sangat penting dalam sejarah politik Iran.

Seruan Persatuan kepada Rakyat Iran

Setelah pengumuman pemimpin baru, Majelis Pakar juga menyerukan kepada rakyat Iran untuk bersatu mendukung kepemimpinan yang baru.

Seruan tersebut secara khusus ditujukan kepada para ulama, akademisi, serta intelektual di lembaga pendidikan agama dan universitas di Iran agar menyatakan kesetiaan kepada pemimpin baru.

Majelis menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional di tengah situasi konflik dan tekanan geopolitik yang sedang dihadapi negara tersebut.

Persatuan nasional dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas politik dan ketahanan negara.

Ali Khamenei Gugur di Tengah Konflik

Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan gugur pada 28 Februari dalam serangan yang disebut Iran sebagai agresi gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Khamenei gugur saat berada di kantornya ketika sedang menjalankan tugas kenegaraan pada Sabtu dini hari.

Laporan tersebut sekaligus membantah berbagai klaim yang beredar di media yang disebut terkait dengan Israel, yang menyatakan bahwa Khamenei berada di lokasi rahasia yang aman.

Media pemerintah Iran menegaskan bahwa sang pemimpin tetap berada di tengah rakyatnya hingga akhir hayatnya saat menjalankan tanggung jawab kepemimpinan negara.

Dewan Kepemimpinan Sementara Dibentuk

Setelah wafatnya Ali Khamenei, Iran segera membentuk dewan kepemimpinan sementara sesuai dengan Pasal 111 Konstitusi Iran.

Dewan tersebut bertugas menjalankan fungsi kepemimpinan hingga pemimpin baru resmi ditetapkan oleh Majelis Pakar.

Dewan kepemimpinan sementara terdiri dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Ketua Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei, serta ulama terkemuka Alireza Arafi yang merupakan anggota Dewan Penjaga.

Mekanisme ini merupakan bagian dari sistem konstitusional Iran untuk menjamin kesinambungan pemerintahan dalam kondisi darurat.

Peran Strategis Pemimpin Tertinggi Iran

Jabatan Pemimpin Tertinggi Iran, yang juga dikenal sebagai Wali Hukum atau Vali-e Faqih, merupakan posisi paling berpengaruh dalam sistem politik negara tersebut.

Pemegang jabatan ini memiliki otoritas tertinggi atas cabang eksekutif, legislatif, dan yudisial, sekaligus berperan menentukan arah kebijakan strategis nasional, termasuk kebijakan pertahanan dan hubungan luar negeri.

Ali Khamenei sendiri menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi sejak Juni 1989 setelah wafatnya pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.

Selama hampir 36 tahun masa kepemimpinannya, Khamenei menjadi tokoh sentral dalam politik Iran serta memainkan peran penting dalam berbagai dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.  (fntv)

Sumber: Kantor Berita Al Mayadeen

Posting Komentar untuk "Majelis Pakar Iran Pilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Baru, Gantikan Ayahnya Ali Khamenei"