Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

IRGC Klaim Hancurkan Infrastruktur Militer AS di Kawasan, Iran Tegaskan Akan Tentukan Akhir Perang

JAKARTA, Framing NewsTV – Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC menyatakan telah menghancurkan sejumlah infrastruktur militer milik Amerika Serikat di berbagai wilayah Timur Tengah. Dalam pernyataannya, IRGC juga memperingatkan bahwa Iran akan menentukan kapan perang yang sedang berlangsung akan berakhir, seiring meningkatnya ketegangan militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naeini, yang menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran saat ini berada dalam kesiapan penuh untuk menghadapi berbagai kemungkinan eskalasi konflik di kawasan.

Iran Siap Hadapi Armada AS di Selat Hormuz

Menurut Naeini, pasukan Iran telah bersiaga menghadapi potensi konfrontasi langsung dengan armada militer Amerika Serikat yang berada di kawasan strategis.

Ia menyebut bahwa pasukan Iran sedang memantau pergerakan armada AS, termasuk kapal induk USS Gerald R. Ford yang berada di sekitar Selat Hormuz.

“Pasukan kami sedang menunggu armada AS dan kapal induk USS Gerald R. Ford di Selat Hormuz,” ujar Naeini.

Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur maritim paling penting di dunia karena menjadi rute utama pengiriman energi global.

Iran Klaim Hancurkan Infrastruktur Militer AS

Dalam pernyataannya, juru bicara IRGC menegaskan bahwa pasukan Iran telah menghancurkan sejumlah infrastruktur militer penting milik Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Ia menambahkan bahwa operasi militer Iran akan terus berlanjut selama konflik masih berlangsung. Menurutnya, Iran memiliki kemampuan untuk mempertahankan wilayahnya sekaligus melindungi sumber daya energi yang menjadi kepentingan strategis nasional.

Naeini juga menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur dalam menghadapi tekanan militer dari pihak lawan.

“Pertempuran akan berlanjut dan Iranlah yang akan menentukan akhir dari perang ini,” tegasnya.

IRGC Bantah Klaim Donald Trump

Dalam kesempatan yang sama, Naeini menolak pernyataan yang sebelumnya disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai penghancuran aset militer Iran.

Menurut juru bicara IRGC tersebut, klaim yang disampaikan Trump hanyalah bentuk perang psikologis dan disinformasi yang bertujuan memengaruhi opini publik.

Ia menilai bahwa justru serangan balasan yang dilakukan Iran telah menimbulkan kebingungan di pihak Amerika Serikat.

Naeini bahkan menyebut bahwa langkah-langkah militer Iran telah membuat pemerintahan AS berada dalam kondisi “kebingungan dan ketidakberdayaan”.

Ancaman Iran terhadap Ekspor Minyak Kawasan

Di tengah eskalasi konflik, seorang pejabat militer senior Iran juga menyampaikan peringatan keras terkait ekspor minyak di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan kepada media regional Al Mayadeen, pejabat tersebut mengatakan bahwa Iran tidak akan mengizinkan ekspor minyak apa pun menuju pihak musuh atau sekutunya jika serangan terhadap Iran terus berlanjut.

“Kami tidak akan mengizinkan satu liter pun minyak di kawasan ini mencapai pihak musuh dan mitranya sampai pemberitahuan lebih lanjut,” ujar pejabat tersebut.

Pernyataan ini menandakan kemungkinan meningkatnya tekanan terhadap jalur distribusi energi global jika konflik terus berlanjut.

Selat Hormuz dalam Pengawasan Militer

Pejabat Iran tersebut juga menegaskan bahwa aktivitas pelayaran komersial di kawasan akan berada di bawah pertimbangan keamanan yang lebih ketat selama kondisi perang berlangsung.

Ia menyebut bahwa lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz dapat diatur berdasarkan aturan militer jika situasi konflik semakin memburuk.

Langkah ini dinilai berpotensi memengaruhi distribusi energi global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur ekspor minyak paling penting di dunia.

Pejabat Iran itu menegaskan bahwa keamanan kawasan hanya dapat terjamin jika semua pihak menghentikan serangan terhadap Iran.

“Entah ada keamanan untuk semua orang atau tidak ada keamanan untuk siapa pun,” tegasnya.

Konflik Meluas di Timur Tengah

Ketegangan militer di kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut memicu respons militer besar dari Iran yang menargetkan sejumlah instalasi militer Amerika Serikat di berbagai negara kawasan, termasuk Qatar, Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, serta wilayah Kurdistan Irak.

Selain itu, Iran juga melancarkan serangan drone dan rudal terhadap berbagai target strategis di Israel yang mencakup infrastruktur penting serta aset ekonomi.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik yang awalnya bersifat terbatas kini berpotensi berkembang menjadi krisis keamanan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah jika tidak segera mereda melalui jalur diplomasi internasional. (fntv)

Posting Komentar untuk "IRGC Klaim Hancurkan Infrastruktur Militer AS di Kawasan, Iran Tegaskan Akan Tentukan Akhir Perang"