Stok Menipis, AS Pindahkan Sistem Patriot dan THAAD dari Korea Selatan ke Timur Tengah
JAKARTA, Framing NewsTV – Amerika Serikat dilaporkan mulai memindahkan sistem pertahanan udara jarak jauh MIM-104 Patriot dari Korea Selatan menuju kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil setelah meningkatnya intensitas serangan rudal dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang membuat persediaan sistem pertahanan rudal di kawasan tersebut menipis.
Sumber pemerintah Korea Selatan yang berbicara kepada sejumlah media lokal menyebutkan bahwa pemindahan tersebut merupakan bagian dari upaya Washington untuk memperkuat kembali kemampuan pertahanan udara di Timur Tengah setelah berminggu-minggu terjadi baku tembak rudal yang intens.
Pesawat Militer AS Datang ke Pangkalan Osan
Menurut sumber tersebut, pesawat angkut militer besar milik Amerika Serikat kemungkinan besar jenis Boeing C-17 Globemaster III telah tiba di Pangkalan Angkatan Udara Osan untuk memindahkan sistem pertahanan udara tersebut.
Kedatangan pesawat angkut strategis itu menandakan dimulainya proses pemindahan sistem Patriot yang sebelumnya ditempatkan di Korea Selatan menuju kawasan konflik di Timur Tengah.
Washington dinilai berusaha memperkuat kembali jaringan pertahanan rudal di kawasan tersebut yang mengalami tekanan akibat penggunaan intensif selama konflik berlangsung.
Stok Patriot dan THAAD Menipis
Langkah pemindahan ini dilakukan setelah berbagai laporan menunjukkan bahwa persediaan rudal pencegat sistem MIM-104 Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD di Timur Tengah menurun secara signifikan.
Penurunan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut kemudian memicu gelombang serangan balasan dari pasukan Iran, khususnya Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC.
Serangan balasan Iran dilaporkan menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat dan aset strategis Israel di kawasan Timur Tengah.
Persediaan Rudal Sudah Tertekan Sejak 2025
Tekanan terhadap persediaan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat sebenarnya sudah terjadi sebelum konflik terbaru meletus.
Laporan pada Juli 2025 menyebutkan bahwa stok rudal pencegat Patriot milik Pentagon telah turun hingga sekitar 25 persen dari jumlah yang dianggap diperlukan untuk kebutuhan operasional normal.
Penurunan ini disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu transfer besar-besaran sistem pertahanan udara ke Ukraina serta penggunaan pencegat secara intensif dalam berbagai konfrontasi militer yang melibatkan Iran pada awal tahun tersebut.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan analis militer mengenai kemampuan Amerika Serikat mempertahankan operasi pertahanan udara dalam jangka panjang jika konflik terus meningkat.
Taiwan Belum Diminta Pindahkan Sistem Senjata
Di tengah laporan pemindahan sistem pertahanan udara tersebut, pemerintah Taiwan menyatakan belum menerima permintaan apa pun dari Amerika Serikat terkait penempatan ulang peralatan militer ke Timur Tengah.
Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo mengatakan kepada wartawan di parlemen bahwa hingga saat ini Washington belum menghubungi pemerintah Taiwan terkait kemungkinan penggunaan peralatan militer buatan AS yang dimiliki negara tersebut.
“Namun sejauh ini, karena perang AS-Iran, mereka belum menghubungi kami untuk menggunakan peralatan terkait apa pun yang kami miliki,” kata Koo.
Pengiriman Drone MQ-9B Tetap Berjalan
Sementara itu, angkatan udara Taiwan juga memastikan bahwa pesanan empat unit drone pengintai canggih MQ-9B SkyGuardian tetap berjalan sesuai jadwal.
Drone tersebut diproduksi oleh General Atomics dan dirancang untuk misi pengawasan serta akuisisi target.
Menurut pernyataan militer Taiwan, dua unit pertama drone tersebut diperkirakan akan dikirimkan pada akhir tahun ini dan tidak terpengaruh oleh konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Iran Luncurkan Gelombang Serangan Baru
Di sisi lain, IRGC mengumumkan peluncuran gelombang ke-33 dari Operasi Janji Sejati 4 yang menargetkan pangkalan militer dan instalasi strategis Amerika Serikat serta Israel di kawasan.
Operasi tersebut disebut melibatkan sejumlah besar rudal balistik termasuk Khyber Shikan yang dilengkapi hulu ledak seberat satu ton.
IRGC menyatakan bahwa seluruh rudal yang diluncurkan berhasil mencapai target yang telah ditentukan.
Dalam pernyataannya, pasukan Iran juga mengklaim bahwa sejumlah target penting, termasuk instalasi militer dan fasilitas strategis, berhasil diserang dalam operasi tersebut.
Iran Klaim Serang Armada AS dan Tel Aviv
Menurut pernyataan IRGC, serangan terbaru juga menargetkan armada Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan, termasuk unit yang berkaitan dengan United States Fifth Fleet.
Selain itu, kota Tel Aviv dilaporkan menjadi sasaran lebih dari sepuluh rudal dalam serangan tersebut.
IRGC juga menyatakan bahwa sejumlah rekaman yang menunjukkan ledakan serta rudal yang menembus sistem pertahanan udara Iron Dome mulai beredar di media sosial meskipun terdapat sensor ketat dari militer Israel.
Iran Klaim Hancurkan Radar THAAD
Sebelumnya, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Central Headquarters juga mengumumkan bahwa pasukan Iran berhasil menargetkan dan menghancurkan empat radar milik jaringan pertahanan rudal THAAD Amerika Serikat.
Radar tersebut dilaporkan berada di beberapa lokasi strategis, termasuk di kawasan Al-Rubba, Al-Ruwais, Al-Kharj, dan Al-Azraq.
Menurut pejabat Iran, radar jarak jauh tersebut berfungsi memberikan data pelacakan secara real-time kepada sistem pertahanan rudal yang dioperasikan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Serangan terhadap fasilitas tersebut disebut sebagai bagian dari operasi militer Iran yang bertujuan melumpuhkan kemampuan pertahanan rudal musuh di kawasan Timur Tengah. (fntv)

Posting Komentar untuk "Stok Menipis, AS Pindahkan Sistem Patriot dan THAAD dari Korea Selatan ke Timur Tengah"