Tanpa Ampun Serang Israel-AS, Menlu Araqchi: Iran yang Menentukan Kapan Perang Berakhir
JAKARTA, Framing NewsTV – Pemerintah Iran menegaskan bahwa Teheran yang akan menentukan kapan perang berakhir, meskipun konflik terbaru dipicu oleh serangan Israel dan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, di tengah eskalasi militer yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.
Araqchi menyebut bahwa Iran telah mempelajari pengalaman panjang intervensi militer Amerika Serikat di kawasan, dan mengambil pelajaran strategis dari kegagalan tersebut.
“Iran yang Menentukan Akhir Perang”
Dalam pernyataannya yang dikutip Tasnim News Agency pada Senin (2/3/2026), Araqchi menyampaikan keyakinan bahwa Iran tidak akan mudah dilemahkan oleh serangan udara maupun tekanan militer.
“Kami telah memiliki waktu dua dekade untuk mempelajari kekalahan militer AS di sebelah timur dan barat kami. Kami telah mengambil pelajaran yang sesuai,” ujarnya, merujuk pada invasi militer AS ke Irak dan Afghanistan pada awal 2000-an.
Ia menambahkan bahwa serangan terhadap Teheran tidak akan mengubah keseimbangan kekuatan.
“Pemboman di ibu kota kami tidak berdampak pada kemampuan kami untuk berperang,” tegas Araqchi.
Lebih lanjut, ia menyebut Iran mengandalkan strategi pertahanan yang disebutnya sebagai sistem mosaik terdesentralisasi.
“Sistem Pertahanan Mosaik Terdesentralisasi memungkinkan kita untuk memutuskan kapan dan bagaimana perang akan berakhir,” katanya.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Iran mengklaim memiliki struktur militer yang fleksibel dan tidak mudah dilumpuhkan oleh serangan terpusat.
Operasi Janji Sejati 4 Diluncurkan
Sebagai respons atas agresi yang dituding dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, Iran meluncurkan Operasi Janji Sejati 4. Dalam operasi tersebut, Teheran mengerahkan serangan rudal dan drone besar-besaran terhadap target Israel serta pangkalan militer AS di kawasan.
Serangan itu disebut sebagai aksi balas dendam atas gugurnya Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer senior dan ratusan warga sipil.
Iran menyebut langkah tersebut sebagai hak membela diri sekaligus pesan tegas bahwa mereka tidak akan membiarkan pembunuhan pemimpin tertinggi negara berlalu tanpa konsekuensi.
Iran Tolak Negosiasi dengan AS dan Israel
Di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk membuka jalur diplomasi, Teheran justru menutup pintu negosiasi. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, secara tegas menolak tawaran perundingan dengan Amerika Serikat maupun Israel.
Pernyataan tersebut menjadi respons atas kabar adanya permintaan gencatan senjata yang disebut dikirimkan Washington melalui jalur belakang.
“Baca itu lagi. Bukan. Bukan dengan syarat ini,” kata Larijani, seperti dikutip analis Islander World pada Senin (2/3/2026).
Ia menegaskan kembali posisi Teheran.
“Kami tidak akan bernegosiasi,” ujarnya.
Larijani juga mengkritik Presiden AS, Donald Trump, dengan menyebut kebijakan “America First” telah berubah menjadi “Israel First”. Ia menuding Washington mengorbankan tentara Amerika demi ambisi Israel.
Hizbullah Resmi Masuk Perang
Sementara itu, konflik semakin meluas setelah kelompok perlawanan Lebanon, Hezbollah, menyatakan resmi memasuki perang balas dendam terhadap Israel.
Masih dikutip dari Tasnim News, Hizbullah menargetkan pangkalan militer di selatan Haifa pada Minggu malam dengan rudal dan drone. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas pembunuhan Ayatollah Khamenei sekaligus bentuk pembelaan terhadap Lebanon.
Hizbullah juga mengklaim telah menyerang situs rudal militer Israel di selatan Haifa. Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menegaskan bahwa langkah mereka merupakan reaksi pertahanan yang sah terhadap agresi berulang yang dilakukan Israel-Amerika.
Perang Total Tanpa Kompromi
Serangkaian pernyataan dari pejabat tinggi Iran menunjukkan bahwa konflik ini telah memasuki fase konfrontasi terbuka tanpa ruang kompromi dalam waktu dekat. Retorika yang digunakan, baik oleh Araqchi maupun Larijani, mencerminkan sikap keras dan penolakan terhadap jalur diplomasi.
Dengan keterlibatan Hizbullah di Lebanon dan serangan balasan yang terus berlangsung, perang di kawasan Timur Tengah kini berkembang menjadi konflik multi-front yang berisiko meluas.
Hingga kini, belum terlihat tanda-tanda de-eskalasi, sementara masing-masing pihak menegaskan tekadnya untuk melanjutkan operasi militer hingga tujuan strategis mereka tercapai. (fntv)

Posting Komentar untuk "Tanpa Ampun Serang Israel-AS, Menlu Araqchi: Iran yang Menentukan Kapan Perang Berakhir"