Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bela Kebijakan Ekonominya, Donald Trump Sebut AS Masuk Era Keemasan

JAKARTA, Framing NewsTV – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pembelaan tegas atas kebijakan dan rekor ekonominya dalam pidato kenegaraan State of the Union di hadapan Kongres, Selasa malam (24/2) waktu setempat. Dalam pidato yang disorot luas media nasional maupun internasional, Trump mengklaim Amerika Serikat tengah memasuki “Era Keemasan”, meskipun berbagai survei menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinannya mengalami penurunan menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.

“Bangsa kita telah kembali lebih besar, lebih baik, lebih kaya, dan lebih kuat dari sebelumnya. Kalian belum melihat apa-apa. Ini adalah Era Keemasan Amerika,” ujar Trump dalam pidatonya di Gedung Capitol, dikutip dari siaran resmi Gedung Putih.

Klaim Keberhasilan di Tengah Tekanan Politik

Pidato tersebut berlangsung di tengah tekanan politik yang meningkat. Trump menghadapi penurunan elektabilitas, polemik kebijakan luar negeri termasuk ketegangan dengan Iran, serta putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan kebijakan tarif andalannya.

Dalam pidatonya, Trump tetap menegaskan kondisi ekonomi berada dalam performa terbaik.

“Hari ini, perbatasan kita aman, inflasi terjun bebas, pendapatan naik cepat, dan ekonomi kita mengaum tidak seperti sebelumnya,” klaim Trump.

Namun, sejumlah data survei menunjukkan persepsi publik yang berbeda. Jajak pendapat gabungan Washington Post–ABC News–Ipsos yang dirilis Minggu mencatat 60% warga Amerika tidak puas dengan kinerja presiden. Sementara survei terbaru CNN menunjukkan tingkat persetujuan di kalangan pemilih independen hanya 26%.

Serangan ke Joe Biden dan Demokrat

Dalam upaya mempertahankan narasi keberhasilan, Trump kembali menyalahkan pendahulunya, Joe Biden, atas kondisi ekonomi yang menurutnya diwariskan dalam keadaan krisis.

“Saya mewarisi negara dalam krisis, dengan ekonomi stagnan, inflasi rekor, dan kekacauan global,” kata Trump.

Retorika tersebut dinilai sebagai strategi untuk mengonsolidasikan basis pemilih Partai Republik, sekaligus membendung momentum Partai Demokrat yang terus mengkritisi kebijakan tarif dan isu kenaikan harga kebutuhan pokok.

Kontroversi Tarif dan Mahkamah Agung

Salah satu pukulan besar bagi pemerintahan Trump datang dari Mahkamah Agung AS. Ketua Mahkamah Agung John Roberts bersama hakim Elena Kagan, Brett Kavanaugh, dan Amy Coney Barrett termasuk dalam jajaran yang membatalkan kebijakan tarif unggulan pemerintah.

Putusan tersebut memaksa Gedung Putih merancang skema pajak pengganti yang justru menuai kritik dari mitra dagang utama Amerika Serikat.

Trump bahkan secara terbuka menyerang hakim, termasuk dua hakim yang ia tunjuk sendiri, menandakan ketegangan internal dalam lanskap politik konservatif.

Strategi Pemulihan Narasi Ekonomi

Gedung Putih menyatakan Trump akan menonjolkan penciptaan lapangan kerja, investasi triliunan dolar, serta upaya menekan harga obat-obatan sebagai fokus utama kampanye menjelang pemilu.

Trump juga berencana menominasikan Kevin Warsh sebagai Gubernur Federal Reserve dengan harapan kebijakan suku bunga lebih agresif untuk mendorong pertumbuhan. Namun, sejumlah ekonom memperingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi memicu inflasi baru.

Selain itu, Trump mengusulkan pembatasan bunga kartu kredit maksimal 10% serta pelarangan investor institusional membeli rumah tinggal tunggal. Namun hingga kini, sejumlah anggota Kongres belum menunjukkan komitmen untuk meloloskan kebijakan tersebut.

Nasionalisme dan Simbol Politik

Dalam pidatonya, Trump juga mengedepankan simbol nasionalisme, termasuk perayaan 250 tahun Amerika Serikat serta menghadirkan tamu-tamu undangan simbolik seperti keluarga aktivis konservatif dan veteran perang.

“Ini benar-benar perubahan besar yang bersejarah. Kita tidak akan pernah mundur,” tegas Trump.

State of the Union kali ini menjadi panggung krusial bagi Trump untuk membangkitkan kembali kepercayaan publik terhadap kepemimpinannya. Namun, apakah narasi “Era Keemasan” mampu menggeser kekhawatiran pemilih terhadap biaya hidup dan inflasi, akan sangat ditentukan dalam kontestasi politik November mendatang. (fntv)

Posting Komentar untuk "Bela Kebijakan Ekonominya, Donald Trump Sebut AS Masuk Era Keemasan"