Trump Disebut Izinkan Iran Olah Uranium, Tapi Mau Singkirkan Khamenei
JAKARTA, Framing NewsTV – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan siap mempertimbangkan proposal yang memungkinkan Iran tetap melakukan pengayaan uranium dalam skala “simbolis”, selama tidak membuka jalur menuju pembuatan senjata nuklir. Namun di saat yang sama, Trump juga disebut menerima berbagai opsi militer terhadap Teheran, termasuk skenario ekstrem yang menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Informasi tersebut diungkap seorang pejabat senior AS kepada Axios. Laporan itu menyebutkan bahwa pendekatan ganda—jalur diplomasi dan opsi militer—disiapkan Washington guna mencapai kesepakatan pembatasan nuklir Iran sekaligus mencegah pecahnya konflik terbuka di kawasan Timur Tengah.
Opsi Pengayaan Uranium “Simbolis”
Menurut pejabat senior AS yang diwawancarai Axios, standar bagi proposal nuklir Iran sangat tinggi. Pemerintahan Trump menginginkan kesepakatan yang dapat dipertanggungjawabkan secara politik di dalam negeri serta mampu meredam skeptisisme di lingkaran internal Gedung Putih dan sekutu regional.
“Presiden Trump siap menerima kesepakatan yang substansial dan bisa ia pertanggungjawabkan secara politik di dalam negeri. Jika Iran ingin mencegah serangan (AS), mereka harus mengajukan tawaran yang tak bisa kami tolak. Iran terus melewatkan jendela peluang. Jika mereka bermain-main, kesabaran tidak akan lama,” ujar pejabat senior AS tersebut, seperti dikutip Axios.
Pernyataan ini menegaskan bahwa meski ruang negosiasi terbuka, tekanan terhadap Iran tetap besar. Pengayaan uranium dalam bentuk “simbolis” hanya dapat diterima jika benar-benar tertutup dari kemungkinan pengembangan senjata nuklir.
Respons Teheran dan Tenggat Waktu
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa proposal dari Teheran akan difinalisasi dalam dua atau tiga hari. Tenggat tersebut disebut-sebut sebagai batas waktu yang ditetapkan Trump sebelum mempertimbangkan langkah militer.
Dalam wawancara dengan program “Morning Joe”, Araghchi membantah bahwa Amerika Serikat meminta Iran menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium dalam perundingan di Jenewa. Ia juga menepis kabar bahwa Iran menawarkan penghentian sementara program tersebut.
“Yang kami bicarakan sekarang adalah bagaimana memastikan program nuklir Iran, termasuk pengayaan, bersifat damai dan akan tetap damai selamanya,” kata Araghchi.
Ia menambahkan bahwa Iran bersedia mengambil “langkah-langkah pembangunan kepercayaan” sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi dari Washington. Pernyataan itu menunjukkan Teheran masih mengedepankan jalur diplomasi meski tekanan militer meningkat.
Skenario Militer dan Target Khamenei
Di tengah proses negosiasi, Washington terus memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah. Bahkan, menurut sumber yang dikutip Axios, Pentagon telah menyodorkan sejumlah opsi kepada Presiden Trump, termasuk skenario yang menargetkan Khamenei dan putranya, Mojtaba Khamenei.
“Mereka punya skenario untuk setiap kemungkinan. Salah satunya mencakup menyingkirkan Ayatollah dan putranya serta para mullah,” kata salah satu sumber tersebut.
Seorang penasihat senior Trump juga mengakui bahwa hingga kini belum ada keputusan final terkait serangan militer.
“Presiden belum memutuskan untuk menyerang. Saya tahu itu karena kami belum menyerang. Ia mungkin tidak akan pernah melakukannya. Ia bisa saja bangun besok dan berkata, ‘Sudah, kita lakukan,’” ujar penasihat tersebut.
Sumber kedua mengonfirmasi bahwa opsi untuk membunuh Khamenei dan putranya telah diajukan kepada Trump beberapa minggu lalu. Namun, belum jelas apakah opsi itu akan benar-benar dipilih.
Gedung Putih: Semua Opsi Terbuka
Penasihat senior lainnya menegaskan bahwa Trump menjaga seluruh opsi tetap terbuka. Ketidakpastian ini mencerminkan dinamika internal Gedung Putih yang masih mempertimbangkan risiko politik, militer, dan geopolitik dari setiap keputusan.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menolak mengonfirmasi atau membantah laporan Axios.
“Media boleh berspekulasi sebanyak yang mereka mau tentang pemikiran presiden, tetapi hanya Presiden Trump yang tahu apa yang akan atau tidak akan ia lakukan,” ujar Kelly.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa arah kebijakan Washington terhadap Iran masih berada di tangan Trump sepenuhnya. Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, dunia internasional kini menanti apakah jalur diplomasi akan membuahkan hasil, atau justru ketegangan meningkat menuju konfrontasi terbuka. (fntv)

Posting Komentar untuk "Trump Disebut Izinkan Iran Olah Uranium, Tapi Mau Singkirkan Khamenei"