Polisi Israel Tangkap Imam Masjid Al-Aqsa Jelang Ramadhan, Ketegangan di Yerusalem Timur Meningkat
JAKARTA, Framing NewsTV — Polisi Israel menangkap Imam Masjid Al-Aqsa, Sheikh Muhammad Ali Abbasi, di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur, pada Senin (16/2/2026) malam. Selain penahanan, otoritas juga mengeluarkan perintah pelarangan masuk ke area masjid selama 1 pekan. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari sebelum dimulainya bulan suci Ramadhan.
Langkah tersebut memicu perhatian luas karena Masjid Al-Aqsa merupakan salah satu situs paling sensitif secara religius dan politik di kawasan tersebut.
Ditangkap di Dalam Kompleks Masjid
Menurut pernyataan resmi otoritas Yerusalem yang dikutip sejumlah sumber setempat, Sheikh Muhammad Ali Abbasi “ditahan oleh pasukan Israel dan dilarang memasuki kompleks masjid selama satu minggu.” Namun, tidak dijelaskan secara rinci alasan pelarangan tersebut.
Penangkapan dilakukan di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa, lokasi yang setiap hari menjadi pusat aktivitas ibadah umat Islam. Selama Ramadhan, ratusan ribu warga Palestina biasanya memadati area tersebut untuk melaksanakan salat berjamaah dan ibadah malam.
Sejumlah pengamat menilai waktu penahanan yang berdekatan dengan Ramadhan berpotensi meningkatkan sensitivitas situasi keamanan di Yerusalem Timur.
Pembatasan Aktivitas Keagamaan dan Akses Jamaah
Penangkapan Sheikh Abbasi terjadi di tengah meningkatnya kebijakan keamanan Israel di sekitar Masjid Al-Aqsa. Laporan dari sumber Palestina menyebutkan adanya pembatasan terhadap imam, penceramah, serta kelompok al-Murabitin—warga yang rutin hadir untuk menjaga dan meramaikan kawasan masjid.
Selain itu, pembatasan akses jamaah juga diberlakukan. Sumber Palestina menyatakan lebih dari 250 perintah pelarangan masuk ke Masjid Al-Aqsa telah dikeluarkan sejak awal tahun 2026. Sekitar 25 pegawai Waqf Islam juga dilaporkan dicopot dari tugasnya.
Administrator Waqf Islam disebut menghadapi hambatan dalam mempersiapkan kebutuhan logistik Ramadhan, termasuk pemasangan peneduh, penyediaan titik medis, dan pengaturan teknis arus jamaah.
Masjid Al-Aqsa merupakan situs tersuci ketiga bagi umat Islam setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Bagi umat Yahudi, kawasan tersebut dikenal sebagai Temple Mount dan diyakini sebagai lokasi berdirinya dua kuil kuno.
Israel menduduki Yerusalem Timur sejak Perang Arab-Israel 1967 dan mencaplok seluruh kota pada 1980, langkah yang tidak diakui oleh sebagian besar komunitas internasional.
Eskalasi Keamanan di Yerusalem dan Tepi Barat
Ketegangan tidak hanya terjadi di Yerusalem Timur. Di wilayah Tepi Barat, situasi keamanan juga meningkat. Beberapa jam setelah penangkapan imam Masjid Al-Aqsa, seorang pemuda Palestina berusia 18 tahun dilaporkan tewas setelah ditembak pasukan Israel di dekat tembok pemisah di wilayah barat Qalqilya.
Menurut sumber resmi Palestina, korban sempat dilarikan ke rumah sakit namun meninggal akibat luka yang dideritanya. Insiden tersebut terjadi dalam rangkaian operasi militer Israel yang mencakup penggerebekan dan penangkapan.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 1.100 warga Palestina dilaporkan tewas dan hampir 11.500 lainnya terluka dalam berbagai operasi di Tepi Barat. Media Israel juga melaporkan adanya penambahan batalion dan intensifikasi operasi keamanan menjelang Ramadhan.
Sekitar 140.000 pekerja Palestina disebut masih dilarang memasuki Israel sejak konflik Gaza, kebijakan yang menurut sejumlah pejabat keamanan berpotensi memperburuk ketidakstabilan sosial dan ekonomi.
Sorotan dan Respons Internasional
Situasi ini juga mendapat perhatian dari komunitas internasional. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengecam keputusan Israel mendaftarkan lahan di Tepi Barat sebagai properti negara. PBB menyatakan bahwa seluruh permukiman di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, tidak memiliki keabsahan hukum menurut hukum internasional.
Sementara itu, Raja Yordania, Abdullah II, memperingatkan bahwa langkah-langkah yang dianggap sebagai upaya pemberlakuan kedaulatan sepihak atas tanah Palestina dapat mengancam stabilitas kawasan, terutama menjelang Ramadhan.
Di sisi lain, Kepala Staf Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir menyatakan bahwa 2026 akan menjadi “tahun penentuan.” Ia menggambarkan situasi saat ini sebagai “perang multi-front” dan menegaskan Israel akan mempertahankan tempo operasional tinggi untuk menghadapi berbagai ancaman keamanan.
Ketegangan Jelang Ramadhan
Dengan Ramadhan yang dijadwalkan dimulai pekan ini, perhatian kini tertuju pada bagaimana otoritas Israel akan mengelola akses jamaah ke Masjid Al-Aqsa. Pembatasan usia dan pembatasan demografis diperkirakan tetap diberlakukan, khususnya terhadap warga Palestina dari Tepi Barat.
Situasi di Yerusalem Timur dan kawasan sekitarnya masih sangat dinamis. Setiap kebijakan baru atau insiden keamanan di area tersebut berpotensi memicu reaksi luas, baik di tingkat lokal maupun internasional. (fntv)

Posting Komentar untuk "Polisi Israel Tangkap Imam Masjid Al-Aqsa Jelang Ramadhan, Ketegangan di Yerusalem Timur Meningkat"