Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

AS-Iran Memanas, Kapal Induk Terbesar Dunia Masuki Laut Mediterania

JAKARTA, Framing NewsTV — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kapal induk terbesar dunia milik Angkatan Laut AS, USS Gerald R. Ford, terlihat memasuki Laut Mediterania pada Jumat (20/2) waktu setempat. Langkah ini dilakukan di tengah peningkatan kekuatan militer besar-besaran yang diperintahkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai respons atas dinamika negosiasi nuklir dengan Iran.

USS Gerald R. Ford Lintasi Selat Gibraltar

Dilansir kantor berita Agence France-Presse (AFP), Sabtu (21/2/2026), kapal induk tersebut terlihat melintasi Selat Gibraltar—jalur strategis yang menghubungkan Samudra Atlantik dengan Laut Mediterania. Foto-foto yang diambil dari sisi Gibraltar menunjukkan kapal raksasa itu bergerak menuju kawasan yang selama ini menjadi episentrum ketegangan geopolitik, yakni Timur Tengah.

Kehadiran USS Gerald R. Ford bukan sekadar simbol kekuatan militer. Kapal induk kelas terbaru ini dilengkapi teknologi tempur canggih, sistem peluncuran pesawat elektromagnetik (EMALS), serta kapasitas membawa puluhan pesawat tempur modern. Pergerakannya ke Mediterania dinilai sebagai sinyal kuat dari Washington bahwa opsi militer tetap berada di meja kebijakan.

Bergabung dengan USS Abraham Lincoln

USS Gerald R. Ford dijadwalkan bergabung dengan kapal induk AS lainnya, USS Abraham Lincoln, beserta kapal-kapal perang pengiring yang telah lebih dulu tiba di kawasan Timur Tengah. Konsentrasi dua kapal induk di wilayah tersebut menunjukkan peningkatan postur pertahanan yang signifikan.

Penempatan dua kapal induk sekaligus merupakan langkah yang jarang dilakukan kecuali dalam situasi krisis atau eskalasi militer serius. Para analis menilai, langkah ini mencerminkan strategi “deterrence through presence” atau pencegahan melalui kehadiran kekuatan militer yang nyata.

Trump Pertimbangkan Serangan Terbatas

Di tengah pengerahan armada militer tersebut, Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan yang semakin mempertegas potensi eskalasi. Dalam pertemuan dengan wartawan pada Jumat (20/2), Trump mengakui bahwa ia sedang mempertimbangkan opsi militer terbatas terhadap Iran.

Ketika ditanya apakah ia tengah mempertimbangkan serangan terbatas jika negosiasi gagal, Trump menjawab tegas, “Yang paling bisa saya katakan — saya sedang mempertimbangkannya,” sebagaimana dikutip AFP.

Pernyataan tersebut menandakan bahwa Gedung Putih tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer apabila perundingan diplomatik tidak membuahkan hasil konkret. Sikap ini sekaligus memperkuat tekanan terhadap Teheran dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung.

Negosiasi Nuklir di Jenewa

Ancaman terbaru dari Washington muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa draf proposal kesepakatan dengan Amerika Serikat akan siap dalam beberapa hari ke depan. Negosiasi antara kedua pihak diketahui berlangsung di Jenewa pada awal pekan ini.

Menurut Araghchi, kedua pihak telah sepakat untuk menyerahkan rancangan perjanjian potensial sebagai langkah lanjutan dalam proses diplomatik. Ia menyebut dokumen tersebut akan menjadi fondasi penting untuk menentukan arah hubungan kedua negara.

“Saya yakin dalam dua atau tiga hari ke depan, itu akan siap, dan setelah konfirmasi akhir dari atasan saya, itu akan diserahkan kepada Steve Witkoff,” ujar Araghchi kepada media AS, merujuk pada negosiator utama Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.

Analisis: Diplomasi di Ujung Tanduk

Pergerakan USS Gerald R. Ford ke Mediterania memperlihatkan bahwa Washington menjalankan pendekatan ganda: diplomasi di satu sisi, dan tekanan militer di sisi lain. Strategi ini kerap digunakan dalam negosiasi internasional yang menyangkut isu sensitif seperti program nuklir.

Iran selama ini bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai, sementara Amerika Serikat dan sekutunya menuntut jaminan yang lebih kuat terkait pembatasan pengayaan uranium. Jika draf kesepakatan yang tengah disusun gagal mencapai titik temu, potensi eskalasi terbuka lebar.

Dengan pengerahan kekuatan laut terbesar dunia dan pernyataan terbuka dari Presiden Trump, dinamika hubungan AS-Iran kini berada pada fase krusial. Dunia internasional menanti apakah jalur diplomasi akan berhasil meredam ketegangan, atau justru membuka babak baru konfrontasi di kawasan Timur Tengah. (fntv)

Posting Komentar untuk "AS-Iran Memanas, Kapal Induk Terbesar Dunia Masuki Laut Mediterania"