Trump Ancam Serang Iran Jika Demonstran Dibunuh, Protes Ekonomi Picu Ketegangan Baru
WASHINGTON, Framing NewsTV — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran di tengah gelombang demonstrasi yang terus meluas akibat memburuknya kondisi ekonomi. Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan merespons dengan serangan “sangat keras” apabila otoritas Iran mulai membunuh para pengunjuk rasa.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan The Hugh Hewitt Show pada Kamis, 08/01/2026. Ia menyebut bahwa tindakan represif terhadap demonstran akan membawa konsekuensi berat bagi Teheran.
“Jika mereka mulai membunuh orang, yang cenderung mereka lakukan saat kerusuhan, mereka sering mengalami kerusuhan. Jika mereka melakukannya, kami akan menyerang mereka dengan sangat keras,” ujar Trump dalam wawancara tersebut.
Trump menambahkan bahwa peringatan kepada Iran telah disampaikan secara tegas melalui berbagai jalur. Menurutnya, pemerintah Iran tidak dapat mengabaikan risiko serius jika memilih menggunakan kekerasan terhadap rakyatnya sendiri.
“Mereka sudah diperingatkan dengan sangat tegas, bahkan lebih tegas daripada yang saya sampaikan kepada Anda sekarang, bahwa jika mereka melakukan itu, mereka akan menanggung akibat yang sangat berat,” lanjut Trump.
Sikap Gedung Putih tersebut diperkuat oleh Wakil Presiden AS JD Vance. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Vance menyatakan bahwa Amerika Serikat mendukung para pengunjuk rasa damai di seluruh dunia, termasuk di Iran, selama mereka memperjuangkan hak-haknya secara non-kekerasan.
“Kami tentu berdiri bersama siapa pun yang terlibat dalam protes damai … yang memperjuangkan hak-hak mereka,” kata Vance kepada wartawan.
Meski demikian, Vance menekankan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi prioritas utama Washington, khususnya terkait program nuklir Iran. Ia menyebut bahwa langkah paling rasional bagi Teheran adalah membuka ruang dialog yang serius dengan Amerika Serikat.
“Hal paling cerdas bagi Iran adalah melakukan negosiasi yang nyata dengan Amerika Serikat mengenai program nuklirnya,” tegas Vance.
Gelombang protes di Iran sendiri dilaporkan mulai pecah pada 28/12/2025 di Grand Bazaar Teheran, pusat aktivitas ekonomi ibu kota. Aksi tersebut dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial Iran serta memburuknya kondisi ekonomi masyarakat. Nilai rial dilaporkan merosot melewati angka 1.350.000 per dolar AS, memicu kemarahan publik yang kemudian menyebar ke sejumlah kota lain di berbagai provinsi.
Hingga kini, otoritas Iran belum merilis data resmi terkait jumlah korban jiwa. Namun, Human Rights Activists News Agency (HRANA) dalam laporan yang diterbitkan Rabu menyebutkan sedikitnya 38 orang tewas pada hari ke-11 aksi protes, termasuk 4 anggota pasukan keamanan.
HRANA juga melaporkan puluhan orang mengalami luka-luka serta sedikitnya 2.217 orang ditangkap oleh aparat keamanan selama rangkaian demonstrasi berlangsung.
Sementara itu, Kantor Berita Tasnim melaporkan bahwa jumlah polisi yang terluka dalam kerusuhan tersebut meningkat menjadi 568 orang. Selain itu, sebanyak 66 anggota pasukan relawan paramiliter Basij juga dilaporkan mengalami luka akibat bentrokan dengan massa.
Situasi ini semakin menambah ketegangan antara Washington dan Teheran, sekaligus meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Sumber: The Hugh Hewitt Show, Gedung Putih, HRANA, Tasnim News Agency

Posting Komentar untuk "Trump Ancam Serang Iran Jika Demonstran Dibunuh, Protes Ekonomi Picu Ketegangan Baru"