Sepertinya Rusia Enggan Ambil Risiko Reputasi dengan Ikut Campur Kerusuhan di Iran
JAKARTA, Framing NewsTV – Pemerintah Rusia dinilai tidak akan mengambil risiko “kerusakan reputasi” dengan melakukan campur tangan langsung dalam gelombang kerusuhan yang terjadi di Iran. Penilaian tersebut disampaikan sejumlah analis internasional di tengah sikap Kremlin yang relatif berhati-hati merespons protes massal di Teheran dan berbagai kota lain.
Kremlin Nilai Protes Iran Mulai Mereda
Pakar Rusia tentang Iran, Nikita Smagin, menyebut Kremlin meyakini gelombang protes di Iran telah mencapai puncaknya dan mulai mereda. Hal itu, menurutnya, didasarkan pada laporan Kedutaan Besar Rusia di Teheran yang menyebut situasi relatif terkendali.
“Kedutaan Rusia memberi sinyal bahwa protes telah mereda dan Kremlin bisa bernapas lega,” kata Smagin, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (15/1/2026). Ia menilai Moskow melihat tidak ada ancaman serius terhadap stabilitas internal Iran dalam waktu dekat.
Protes di Iran sendiri meletus sejak 28 Desember lalu akibat tekanan ekonomi dan sanksi internasional, menyebar ke ratusan kota di negara berpenduduk lebih dari 90 juta jiwa tersebut.
Rusia Kecam Campur Tangan Barat
Sikap resmi Rusia disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri yang mengecam apa yang disebut sebagai “tekanan ilegal Barat”. Juru bicara Kemenlu Rusia, Mariya Zakharova, menuding adanya upaya kekuatan eksternal menggoyahkan Republik Islam Iran.
“Metode ‘revolusi warna’ digunakan, ketika provokator terlatih mengubah protes damai menjadi kekerasan dan kekacauan,” ujar Zakharova, sebagaimana dikutip Al Jazeera.
Istilah “revolusi warna” sendiri kerap digunakan Kremlin untuk menyebut gerakan protes di berbagai negara yang dianggap didalangi Barat, termasuk di Ukraina, Georgia, dan Kirgistan.
Ancaman Trump Dinilai Tak Bisa Direspons Rusia
Zakharova juga menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mendorong warga Iran “mengambil alih lembaga-lembaga negara”. Rusia menilai pernyataan tersebut tidak dapat diterima.
Namun, Smagin menilai Moskow nyaris tidak memiliki opsi nyata untuk merespons ancaman tersebut. “Rusia tidak ingin mengeluarkan pernyataan keras yang justru bisa merusak hubungan dengan pemerintahan baru jika terjadi perubahan rezim di Iran,” katanya.
Belajar dari Kasus Suriah
Sikap hati-hati Rusia ini disebut mirip dengan respons Kremlin saat jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah pada Desember 2024. Kala itu, Moskow menahan diri dan akhirnya tetap mempertahankan kepentingannya setelah Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa berkunjung ke Moskow dan berjanji menghormati kesepakatan lama dengan Rusia.
Kritik Analis: Klise “Revolusi Warna”
Analis berbasis di Kyiv, Vyacheslav Likhachev, menilai narasi Rusia soal “revolusi warna” sudah usang.
“Setiap protes terhadap kediktatoran selalu ditafsirkan Rusia sebagai campur tangan asing,” ujar Likhachev sebagaimana dikutip Al Jazeera. Ia menambahkan bahwa bahkan protes di dalam negeri Rusia sendiri kerap dituduh sebagai ulah pihak luar.
Hubungan Panjang Rusia–Iran
Meski hubungan Rusia dan Iran saat ini relatif erat, sejarah menunjukkan relasi keduanya tidak selalu harmonis. Rusia pernah mencaplok wilayah Iran pada era Tsar dan mencoba mengontrol kepentingan ekonomi Teheran pasca Perang Dunia II.
Namun, di era modern, Moskow menjadi pendukung utama Iran di panggung internasional, termasuk pembangunan PLTN Bushehr dan kerja sama militer. Sebaliknya, Iran juga membantu Rusia dalam perang di Ukraina melalui pasokan drone dan amunisi.
Rusia Tak Ingin Gagal Reputasi Lagi
Mantan diplomat Rusia, Boris Bondarev, menilai Kremlin enggan mengeluarkan ancaman militer karena takut mengalami kegagalan reputasi.
“Mengapa harus mengancam jika itu hanya akan berujung kegagalan reputasi lagi?” ujar Bondarev sebagaimana dikutip Al Jazeera. Ia menilai Rusia terlalu fokus mempertahankan kepentingannya terkait perang Ukraina dan sanksi Barat.
Di dalam negeri, warga Rusia disebut semakin lelah dengan tekanan ekonomi dan konflik berkepanjangan. “Kami sibuk bertahan hidup. Jangan ganggu kami dengan urusan Iran,” kata Irina, warga Yekaterinburg, sebagaimana dikutip Al Jazeera.
Meski demikian, analis pro-Kremlin Sergey Markov optimistis Rusia tetap bisa berperan pasca-protes. “Iran membutuhkan reformasi, dan Rusia dapat membantu dengan saran politik dan teknologi,” tulis Markov di Telegram.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa Rusia memilih pendekatan realistis dan defensif, menghindari langkah berisiko tinggi yang dapat merugikan posisinya di tengah dinamika geopolitik global. (fntv)

Posting Komentar untuk "Sepertinya Rusia Enggan Ambil Risiko Reputasi dengan Ikut Campur Kerusuhan di Iran"