Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rupiah Cetak Rekor Terlemah Dekati Rp 17.000 Per Dollar AS

JAKARTA, Framing NewsTVNilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah terhadap dollar Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan Selasa (13/1/2026), pelemahan rupiah menegaskan tekanan arus modal yang dinilai masih akan membayangi stabilitas perekonomian domestik ke depan.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,13 persen secara harian ke level Rp 16.877 per dollar AS. Pelemahan serupa juga tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) yang berada di posisi Rp 16.875 per dollar AS, turun 0,13 persen dibandingkan hari perdagangan sebelumnya.

Tekanan Arus Modal Jadi Faktor Utama Pelemahan

Lembaga keuangan global HSBC memproyeksikan nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah hingga mendekati Rp 17.000 per dollar AS pada akhir 2026. Proyeksi tersebut mencerminkan kuatnya tekanan dari sisi arus keuangan, khususnya aliran modal asing.

Managing Director sekaligus Chief India Economist and Macro Strategist serta ASEAN Economist HSBC, Pranjul Bhandari, mengatakan bahwa pergerakan rupiah ke depan diperkirakan sedikit lebih lemah dari posisi saat ini, dengan kisaran Rp 16.700 hingga Rp 16.800 per dollar AS.

“Kami pikir pada akhir tahun 2026, kita mungkin akan mencapai angka Rp 17.000 atau sekitar itu. Jadi sedikit lebih lemah daripada saat ini,” ujar Pranjul dalam media briefing yang dikutip Senin (12/1/2026).

Menurut Pranjul, secara teori nilai tukar suatu negara dipengaruhi dua faktor utama, yakni kinerja perdagangan dan arus keuangan. Namun dalam konteks Indonesia, tekanan terbesar justru datang dari sisi arus modal, bukan dari perdagangan.

Defisit Neraca Pembayaran Membesar Sejak 2025

Tekanan arus modal tersebut tercermin pada neraca pembayaran Indonesia yang mencatatkan defisit cukup lebar sejak kuartal II 2025. Pada periode tersebut, defisit neraca pembayaran mencapai 6,7 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 110.550.000.000.000.

Kondisi ini berlanjut pada kuartal III 2025, di mana defisit kembali tercatat sebesar 6,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 105.600.000.000.000. Angka tersebut mencerminkan keluarnya investasi portofolio serta melemahnya arus penanaman modal asing (PMA) dibandingkan periode sebelumnya.

“Arus masuk modal adalah bagian yang menjadi masalah, bukan perdagangan,” tegas Pranjul.

Surplus Perdagangan Masih Kuat dan Konsisten

Di sisi lain, kinerja perdagangan Indonesia dinilai tetap solid dan belum menjadi sumber tekanan bagi nilai tukar. Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 67 bulan berturut-turut, terhitung sejak Mei 2020 hingga November 2025.

Surplus perdagangan yang konsisten ini turut menopang neraca transaksi berjalan agar tetap berada di zona positif. Kondisi tersebut seharusnya menjadi bantalan bagi rupiah, meskipun belum cukup kuat untuk menahan tekanan dari sisi arus keuangan global.

“Perdagangan bukanlah masalah yang mencolok saat ini. Saya pikir surplus perdagangan cukup kuat pada tahun 2025 dan neraca transaksi berjalan juga positif,” lanjut Pranjul.

Ketidakpastian Global dan Arah Kebijakan The Fed

HSBC juga menilai pergerakan dollar AS ke depan cenderung stagnan atau bahkan sedikit melemah. Proyeksi tersebut dipengaruhi oleh berbagai ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat, mulai dari dinamika geopolitik global, potensi pergantian pimpinan The Federal Reserve, hingga arah kebijakan tarif resiprokal.

Meski demikian, kondisi tersebut belum tentu menjadi sentimen positif bagi rupiah. Sepanjang tahun 2025, ketika indeks dollar AS relatif melemah, rupiah justru tercatat melemah sekitar 3,5 persen.

“Jika indeks dollar AS menguat, maka itu akan menjadi masalah besar bagi Indonesia, karena rupiah akan terlihat jauh lebih lemah,” kata Pranjul.

Tekanan Jangka Pendek Masih Membayangi Rupiah

Pandangan serupa disampaikan Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong. Ia menilai rupiah masih berada di bawah tekanan dalam jangka pendek, terutama setelah dollar AS kembali menguat merespons pernyataan bernada hawkish dari pejabat Federal Reserve, William.

“Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dollar AS yang rebound merespons pernyataan hawkish pejabat The Fed William yang mengisyaratkan bahwa The Fed tidak perlu buru-buru menurunkan suku bunga,” ujar Lukman, Dilansir KompasTV Selasa (13/1/2026).

Selain itu, pelaku pasar global juga cenderung bersikap wait and see menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat yang diperkirakan meningkat. Jika inflasi AS kembali naik, ruang pelonggaran suku bunga The Fed akan semakin terbatas, sehingga berpotensi memperpanjang tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah dalam waktu dekat diproyeksikan masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 16.900 per dollar AS. (fntv)

Posting Komentar untuk "Rupiah Cetak Rekor Terlemah Dekati Rp 17.000 Per Dollar AS"