Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Eksekusi Gagal, Christa Pike Kritis dan Tak Sadarkan Diri di Rumah Sakit dengan Ventilator



NASHVILLE, Framing NewsTV — Christa Pike, satu-satunya perempuan dalam daftar terpidana mati Tennessee, masih dalam kondisi “kritis”, tidak sadarkan diri dan menggunakan ventilator di rumah sakit, dua hari setelah upaya eksekusi terhadapnya gagal. Kondisi tersebut disampaikan pengacaranya pada Jumat (2/10/2026).

Dilansir ABC News, pengacara Pike, Stephen Ferrell dan Luke Ihnen dari Federal Defender Services of Eastern Tennessee, mengatakan klien mereka dirawat akibat efek serius pentobarbital yang diberikan dalam upaya eksekusi, termasuk cedera signifikan pada kedua lengannya. 

Para pengacara kemudian mengajukan mosi darurat di Pengadilan Chancery Davidson County untuk meminta Departemen Pemasyarakatan Tennessee menyimpan seluruh bukti yang berkaitan dengan upaya eksekusi tersebut.

Menurut dokumen pengadilan, Pike terdengar menangis, merintih dan bernapas dengan keras ketika dua dosis pentobarbital diberikan. 

Pada satu titik, ia mengatakan lengannya “terasa seperti akan meledak”. Sedikitnya tujuh jarum digunakan untuk mendapatkan akses infus, dengan satu jarum disebut bengkok hingga membentuk sudut 90 derajat saat dilepas.

Dalam mosi tersebut disebutkan pentobarbital bersifat “korosif dan sangat basa” serta menimbulkan rasa terbakar saat kontak. Kedua lengan Pike disebut bengkak, terbakar dan melepuh ketika tiba di rumah sakit di kawasan Nashville. 

Staf rumah sakit kemudian berupaya menyelamatkan nyawanya sekaligus membersihkan pentobarbital dari tubuhnya.

Sebelum eksekusi, Pike telah menyampaikan kekhawatiran mengenai suntikan mematikan. Tim hukumnya menyebut trombositosis, PTSD dan kondisi pembuluh darah kecil membuatnya berisiko mengalami rasa sakit dan penderitaan yang tidak perlu serta berlebihan.

Tim kuasa hukum Pike kini meminta Gubernur Tennessee Bill Lee meringankan hukuman matinya. Randy Spivey, pengacara dari Kantor Pembela Pasca-Hukuman Tennessee, mengatakan proses tersebut bukan hanya tidak efisien, tetapi juga menyebutnya “kejam” dan “menyiksa”.

Para saksi mengatakan petugas tampaknya memberikan dua dosis pentobarbital, tetapi Pike masih bernapas sekitar satu jam kemudian. Reporter Tori Gessner dari WKRN mengatakan tidak ada yang normal dari proses tersebut. 

Beberapa saksi bahkan mengaku masih mendengar Pike bernapas dan mendengkur keras setelah tirai ruang eksekusi ditutup.

Pike, 50 tahun, dijatuhi hukuman mati setelah dinyatakan bersalah atas pembunuhan Colleen Slemmer, 19 tahun, pada 1995. Ia sebelumnya menjadi perempuan pertama yang dijadwalkan dieksekusi Tennessee dalam lebih dari 200 tahun.

Gubernur Bill Lee kemudian memerintahkan peninjauan pihak ketiga dan menghentikan sementara eksekusi yang telah dijadwalkan. Lee mengatakan negara bagian perlu mengetahui mengapa hasil eksekusi kali ini berbeda dari sebelumnya dan menyatakan eksekusi terjadwal yang tersisa tidak akan dilaksanakan tahun ini.

Sebelum upaya eksekusi, perkara Pike juga melewati sejumlah tantangan hukum. Mahkamah Agung AS dengan suara 6-3 mengizinkan eksekusi dilanjutkan setelah pengadilan banding federal sebelumnya mengeluarkan penangguhan. 

Tiga hakim Mahkamah Agung, Sonia Sotomayor, Elena Kagan dan Ketanji Brown Jackson, berbeda pendapat terhadap keputusan tersebut.

Pada 1996, Pike dinyatakan bersalah atas pembunuhan tingkat pertama terhadap Slemmer setelah memukuli, menyiksa dan membunuh korban di kawasan kampus Pertanian Universitas Tennessee. Pike berusia 18 tahun ketika melakukan kejahatan tersebut. 

Mantan pacarnya, Tadaryl Shipp, juga dihukum atas perannya dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan kemungkinan pembebasan bersyarat.(fnyv) 

Posting Komentar untuk "Eksekusi Gagal, Christa Pike Kritis dan Tak Sadarkan Diri di Rumah Sakit dengan Ventilator"