Trump Bicara Suksesi Kepemimpinan Iran Usai Kematian Khamenei, Singgung Model Venezuela
JAKARTA, Framing NewsTV – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyampaikan pandangannya mengenai masa depan kepemimpinan Iran setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Pernyataan itu disampaikan Trump saat menerima Kanselir Jerman Friedrich Merz di Ruang Oval, Selasa waktu setempat, di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dalam sesi tanya jawab bersama wartawan, Trump ditanya mengenai skenario terburuk yang telah disiapkan pemerintahannya menyusul perang yang terus berlangsung antara AS-Israel melawan Iran. Trump menegaskan bahwa dari sisi militer ia tidak terlalu mengkhawatirkan situasi tersebut. Namun, ia mengakui ada kekhawatiran terkait siapa yang akan menggantikan Khamenei di tampuk kekuasaan Teheran.
“Saya kira skenario terburuknya adalah kita melakukan ini, lalu seseorang mengambil alih yang sama buruknya dengan orang sebelumnya. Kita tidak ingin itu terjadi,” ujar Trump. Ia menambahkan bahwa perubahan kepemimpinan yang tidak membawa perbaikan bisa menjadi konsekuensi paling merugikan dalam jangka panjang.
Eskalasi Militer dan Korban Jiwa
Serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan serangan yang menargetkan Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Hingga kini, jumlah korban tewas di Iran dilaporkan mencapai sedikitnya 787 orang. Di sisi lain, setidaknya 6 personel militer AS juga dilaporkan gugur dalam pertempuran tersebut.
Pemerintahan Trump menyampaikan sejumlah alasan untuk membenarkan operasi militer itu. Dalam pernyataan resmi yang dirilis sebelumnya, Trump menyebut bahwa aksi tersebut bertujuan “menghilangkan ancaman langsung dari rezim Iran” serta mencegah “kediktatoran radikal” mengancam kepentingan Amerika Serikat.
Namun, sejumlah pakar hukum internasional menilai serangan tersebut kontroversial dan berpotensi melanggar hukum internasional. Di dalam pemerintahan sendiri, terdapat nuansa berbeda dalam penekanan tujuan operasi. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa operasi ini bukanlah perang untuk penggulingan rezim, meski ia mengakui bahwa “rezim memang telah berubah, dan dunia menjadi lebih baik karenanya.”
Trump Singgung “Model Venezuela”
Dalam pernyataannya, Trump juga menyinggung intervensi militer AS di Venezuela pada awal Januari sebagai contoh yang menurutnya berhasil. Operasi tersebut berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Keduanya kini menghadapi proses hukum di New York atas tuduhan terkait perdagangan narkoba.
Pasca penggulingan Maduro, Wakil Presiden Delcy RodrÃguez dilantik sebagai pemimpin sementara dengan dukungan pemerintahan Trump. Sejak saat itu, menurut Trump, pemerintahan sementara Venezuela bersikap kooperatif terhadap kepentingan Washington, termasuk dalam hal distribusi minyak.
“Venezuela sangat luar biasa karena kami melakukan serangan itu dan menjaga pemerintahan tetap utuh. Kami memiliki Delcy, dan seluruh rantai komando berjalan,” ujar Trump. Ia bahkan menyebut bahwa AS telah mengekstraksi 100 juta barel minyak sebagai bagian dari kesepakatan yang menurutnya menguntungkan kedua pihak.
Trump mengisyaratkan bahwa pendekatan serupa bisa diterapkan di Iran, yakni mempertahankan struktur pemerintahan tetapi mengganti pucuk kepemimpinan dengan figur yang lebih moderat dan kooperatif terhadap AS.
Hambatan dalam Menentukan Pengganti
Meski demikian, Trump mengakui bahwa situasi di Iran jauh lebih kompleks. Ia menyebut bahwa banyak tokoh alternatif yang sebelumnya dipertimbangkan sebagai calon pemimpin baru justru telah tewas dalam rangkaian serangan terbaru.
“Sebagian besar orang yang kami incar sudah meninggal. Sekarang kami punya kelompok lain, tetapi mereka mungkin juga sudah meninggal,” kata Trump. Ia bahkan mengakui bahwa pilihan figur pengganti semakin terbatas.
Nama Reza Pahlavi, putra shah terakhir Iran yang digulingkan pada 1979, turut mencuat dalam diskusi publik. Pahlavi menawarkan diri sebagai pemimpin transisi untuk memulihkan demokrasi di Iran. Namun, ia juga menuai kritik karena latar belakang sejarah keluarganya dan dinilai belum mampu membangun koalisi oposisi yang solid.
Ketika ditanya apakah Pahlavi dapat menjadi kandidat yang didukung Washington, Trump memilih berhati-hati. “Beberapa orang menyukainya. Kami belum terlalu memikirkan hal itu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa figur dari dalam sistem yang moderat dan memiliki popularitas domestik mungkin lebih tepat.
Ketidakpastian Masa Depan Iran
Pernyataan Trump mencerminkan dilema strategis Washington dalam menentukan arah kebijakan pasca-konflik. Di satu sisi, ada dorongan untuk memastikan perubahan kepemimpinan yang sejalan dengan kepentingan AS. Di sisi lain, realitas politik di Iran serta dinamika kawasan membuat proses transisi kekuasaan penuh risiko.
Ketidakpastian mengenai siapa yang akan memimpin Iran ke depan menjadi faktor krusial dalam menentukan stabilitas kawasan Timur Tengah. Sementara konflik masih berlangsung dan korban terus berjatuhan, arah kebijakan AS terhadap Iran diperkirakan akan terus menjadi sorotan global. (fntv)

Posting Komentar untuk "Trump Bicara Suksesi Kepemimpinan Iran Usai Kematian Khamenei, Singgung Model Venezuela"