Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Trump Dilaporkan Marah atas Serangan Israel ke Depot Bahan Bakar Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak

JAKARTA, Framing NewsTV – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menunjukkan kemarahan setelah serangan udara Israel menargetkan sejumlah depot bahan bakar di Iran. Serangan tersebut memicu ketegangan baru antara Washington dan Tel Aviv di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Republik Islam Iran. Informasi ini diungkap oleh sejumlah pejabat Amerika Serikat dan Israel kepada media Axios.

Serangan yang terjadi pada akhir pekan tersebut menandai salah satu insiden paling sensitif sejak perang terhadap Iran dimulai sekitar delapan hari sebelumnya. Skala serangan Israel dinilai jauh melampaui ekspektasi Washington dan memunculkan kekhawatiran mengenai dampak strategis maupun ekonomi global.

Serangan Israel Hantam Puluhan Depot Bahan Bakar

Menurut laporan para pejabat yang mengetahui operasi tersebut, sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran menjadi sasaran serangan udara Israel. Beberapa lokasi yang diserang berada di ibu kota Tehran, memicu kebakaran besar dan kepulan asap tebal yang terlihat dari berbagai penjuru kota.

Gambar-gambar yang beredar di media internasional menunjukkan sejumlah fasilitas energi terbakar hebat, memunculkan kekhawatiran mengenai potensi kerusakan besar pada infrastruktur energi Iran.

Para pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa mereka sebelumnya telah diberi informasi mengenai kemungkinan operasi militer Israel. Namun, skala serangan yang dilakukan ternyata jauh lebih besar dari yang diperkirakan Washington.

Seorang pejabat militer Amerika Serikat bahkan menyebut operasi tersebut sebagai langkah yang tidak sepenuhnya disetujui oleh Washington.

Kekhawatiran AS terhadap Dampak Strategis

Pejabat Amerika Serikat menilai bahwa serangan terhadap infrastruktur bahan bakar yang juga digunakan masyarakat sipil dapat menimbulkan dampak strategis yang tidak diinginkan.

Selain berpotensi memperkuat dukungan publik Iran terhadap pemerintahnya, serangan tersebut juga dikhawatirkan dapat memicu lonjakan harga energi global.

Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut depot bahan bakar yang diserang digunakan oleh pemerintah Iran untuk memasok energi ke berbagai sektor, termasuk kebutuhan militer.

Namun, sejumlah pejabat AS memperingatkan bahwa gambar fasilitas energi yang terbakar dapat memperburuk sentimen di pasar global dan memicu reaksi ekonomi yang luas.

Seorang penasihat Presiden Trump bahkan mengatakan bahwa Trump tidak mendukung serangan terhadap infrastruktur minyak karena khawatir hal tersebut akan mendorong kenaikan harga bahan bakar.

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam

Dampak dari serangan tersebut langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 20% pada awal perdagangan Senin.

Minyak mentah Brent naik hingga 19,8% atau sekitar 18,35 dolar AS menjadi 111,04 dolar per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melonjak sekitar 22,4% atau 20,34 dolar menjadi 111,24 dolar per barel.

Kenaikan tajam ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2022 dan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Lonjakan tersebut juga melanjutkan tren kenaikan harga pada pekan sebelumnya ketika Brent naik sekitar 27%, sedangkan WTI melonjak lebih dari 35%.

Para analis menilai volatilitas pasar energi meningkat tajam seiring meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz Jadi Sumber Kekhawatiran Global

Salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan harga minyak adalah kekhawatiran terhadap gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz.

Selat ini merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dan gas dunia. Setiap gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak langsung pada pasokan energi global.

Laporan industri pelayaran menyebutkan bahwa sejumlah kapal tanker mulai menghindari jalur tersebut karena meningkatnya risiko keamanan di tengah konflik yang sedang berlangsung.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pasar energi global dapat menghadapi kekurangan pasokan dalam waktu dekat.

Upaya Menjaga Stabilitas Pasokan Energi

Beberapa negara produsen minyak mencoba merespons situasi tersebut dengan meningkatkan pengiriman energi dari jalur alternatif.

Arab Saudi dilaporkan meningkatkan volume ekspor minyak dari pelabuhan-pelabuhan di sepanjang Laut Merah untuk membantu menstabilkan pasokan global.

Namun, para analis menilai tambahan pasokan tersebut belum cukup untuk sepenuhnya menggantikan potensi gangguan yang dapat terjadi jika jalur pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu secara signifikan.

Para ekonom memperingatkan bahwa bahkan konflik singkat sekalipun dapat menyebabkan kenaikan harga bahan bakar yang dirasakan oleh konsumen dan dunia usaha selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

Kerusakan infrastruktur energi, gangguan logistik, serta meningkatnya risiko pengiriman diperkirakan akan terus memberi tekanan pada rantai pasokan global.

Pasar Global Ikut Bergejolak

Lonjakan harga energi juga memicu gejolak di pasar keuangan global. Investor mulai khawatir terhadap dampak inflasi yang lebih tinggi akibat kenaikan harga minyak.

Pasar saham Asia menjadi yang pertama merasakan dampaknya. Indeks Nikkei Jepang dilaporkan turun sekitar 6,2%, sementara pasar saham Korea Selatan merosot hingga 7,3%.

Di Amerika Serikat, kontrak berjangka yang terkait dengan indeks saham utama juga mengalami penurunan. Kontrak berjangka S&P 500 turun sekitar 1,8%, sedangkan kontrak berjangka Nasdaq melemah lebih dari 2%.

Pasar Eropa menunjukkan tren serupa dengan indeks EUROSTOXX 50 dan DAX berjangka yang sama-sama turun sekitar 2,5%.

Sementara itu, pasar mata uang global mencerminkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi, dengan dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama karena meningkatnya permintaan likuiditas dari para investor.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pasar energi dan ekonomi global dalam beberapa waktu ke depan. (fntv)

Posting Komentar untuk "Trump Dilaporkan Marah atas Serangan Israel ke Depot Bahan Bakar Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak"