Survei Reuters/Ipsos Terbaru: Mayoritas Warga AS Tolak Serangan ke Iran, Kepuasan Publik terhadap Trump Anjlok
JAKARTA, Framing NewsTV — Hasil survei terbaru yang dirilis Reuters/Ipsos mengungkapkan mayoritas warga Amerika Serikat menolak serangan militer terhadap Iran yang dilancarkan bersama Israel. Survei ini mencerminkan kekhawatiran publik terhadap eskalasi militer yang telah menjerumuskan kawasan Timur Tengah ke pusaran konflik berskala besar.
Hanya Seperempat Warga AS Dukung Serangan
Berdasarkan jajak pendapat yang berakhir pada Ahad (1/3/2026), hanya 27 persen responden menyatakan setuju dengan operasi militer yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Sebaliknya, 43 persen menolak, sementara 29 persen mengaku ragu-ragu.
Pakar politik internasional menilai angka ini menandakan ketidakpuasan publik terhadap keputusan Trump yang dinilai terlalu mudah menggunakan kekuatan militer untuk mencapai kepentingan politik luar negeri AS.
Kekhawatiran Terhadap Keselamatan Pasukan
Eskalasi militer ini sudah memakan korban di pihak AS. Militer AS mengonfirmasi empat tentara tewas, yang memicu serangan balasan rudal dan drone Iran ke pangkalan militer AS serta wilayah Israel.
Selain itu, tiga jet tempur AS jatuh akibat kesalahan sasaran sistem pertahanan udara Kuwait. Hal ini menimbulkan kekhawatiran lebih luas di kalangan warga dan pemilih terkait keselamatan pasukan.
“Sebanyak 42 persen pendukung Partai Republik menyatakan kemungkinan menarik dukungan jika serangan ini menelan lebih banyak korban tentara,” kata analis pertahanan Amerika, dikutip NBC Internasional.
Dampak Politik dan Penurunan Kepuasan Publik
Survei juga menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap Presiden Donald Trump turun menjadi 39 persen. Mayoritas responden—56 persen—menganggap Trump terlalu mudah menggunakan kekuatan militer untuk memajukan kepentingan AS.
Rincian menurut afiliasi politik: 87 persen pendukung Partai Demokrat, 60 persen independen, dan 23 persen pendukung Partai Republik menyoroti perilaku Trump. Dampak ini terasa kritis karena serangan ke Iran dimulai hanya tiga hari sebelum pemilihan pendahuluan pemilu tengah semester (midterm elections).
Kekhawatiran Ekonomi dan Lonjakan Harga Minyak
Dampak ekonomi menjadi sorotan lain. Sekitar 45 persen responden mengatakan mereka akan menolak dukungan terhadap kampanye militer jika harga bahan bakar melonjak.
Pasar minyak merespons ketegangan ini. Pada Ahad, harga minyak mentah Brent naik 10 persen menjadi sekitar 80 dolar AS per barel. Beberapa analis memprediksi harga dapat menembus 100 dolar AS jika konflik terus berlanjut.
“Rute Teluk dan Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi ekspor minyak global. Gangguan di kawasan ini bisa menimbulkan krisis energi dunia,” kata seorang analis geopolitik, dikutip Aljazeera.
Kondisi Diplomatik dan Pandangan Publik
Agresi AS dan Israel dilancarkan setelah negosiasi di Jenewa antara Washington dan Teheran menemui kebuntuan terkait program nuklir Iran. Washington menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium, sementara Teheran menegaskan programnya bersifat damai.
Hasil survei menemukan sekitar separuh responden akan mendukung serangan militer jika hasilnya benar-benar memaksa Iran menghentikan program nuklirnya. Dalam wawancara dengan majalah The Atlantic, Trump menyebut kepemimpinan baru Iran telah menyatakan keinginan berdialog, dan ia menyetujui rencana tersebut.
Ketegangan dan opini publik yang terbelah menunjukkan bahwa eskalasi militer terhadap Iran membawa risiko politik domestik, korban militer, serta dampak ekonomi yang signifikan bagi Amerika Serikat. (fntv)

Posting Komentar untuk "Survei Reuters/Ipsos Terbaru: Mayoritas Warga AS Tolak Serangan ke Iran, Kepuasan Publik terhadap Trump Anjlok"