Gelombang Protes di Kota-Kota AS Tuntut Penghentian Serangan terhadap Iran
JAKARTA, Framing NewsTV – Gelombang protes besar meletus di sejumlah kota besar Amerika Serikat menyusul meningkatnya ketegangan militer setelah serangan yang menargetkan beberapa wilayah di Iran. Para demonstran turun ke jalan untuk menentang keterlibatan militer Amerika Serikat dan menyerukan penghentian segera serangan terhadap negara tersebut.
Aksi protes tersebut dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran masyarakat mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama setelah laporan mengenai korban jiwa akibat serangan yang menargetkan kota-kota di Iran. Para peserta aksi menilai bahwa konflik tersebut berpotensi memperluas perang di kawasan dan melibatkan lebih banyak negara.
Demonstrasi Besar di Sejumlah Kota Amerika
Ratusan demonstran dilaporkan berkumpul di pusat kota Seattle untuk mengutuk kekerasan yang mereka anggap menargetkan warga sipil serta menyuarakan penolakan terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik tersebut.
Para pengunjuk rasa membawa berbagai poster dan spanduk yang menyerukan perdamaian serta mendesak pemerintah untuk menghindari keterlibatan dalam perang baru di luar negeri.
Selain Seattle, aksi protes juga berlangsung di sejumlah kota besar lainnya di Amerika Serikat, termasuk Washington DC, New York, Chicago, dan Los Angeles.
Di kota-kota tersebut, massa berkumpul di ruang publik, melakukan orasi, serta menyerukan agar pemerintah segera menghentikan kebijakan militer yang berpotensi memperburuk situasi keamanan global.
Demonstran Tegaskan Sikap Anti-Perang
Banyak peserta aksi menegaskan bahwa posisi mereka bukanlah mendukung Iran, melainkan menentang kebijakan perang yang dianggap dapat membawa konsekuensi besar bagi stabilitas dunia.
Para demonstran menyatakan bahwa mereka hanya ingin mencegah keterlibatan militer baru yang berpotensi memperpanjang konflik di Timur Tengah.
Menurut sejumlah peserta aksi, pengalaman dari berbagai konflik sebelumnya menunjukkan bahwa perang di luar negeri sering kali menimbulkan dampak kemanusiaan yang luas serta membebani masyarakat.
Karena itu, mereka mendesak pemerintah untuk lebih mengedepankan jalur diplomasi dalam menyelesaikan ketegangan internasional.
Dukungan Publik terhadap Perang Dinilai Rendah
Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Universitas Maryland menunjukkan bahwa dukungan publik terhadap kemungkinan perang dengan Iran relatif rendah.
Hasil survei tersebut menunjukkan hanya sekitar 21 persen responden yang menyatakan dukungan terhadap perang dengan Iran, sementara mayoritas responden menyatakan penolakan terhadap langkah tersebut.
Temuan ini menunjukkan adanya kekhawatiran yang cukup besar di kalangan masyarakat Amerika mengenai potensi konflik baru yang dapat melibatkan negara tersebut di Timur Tengah.
Kritik terhadap Janji Kampanye Presiden
Sejumlah kritikus juga menyoroti janji kampanye Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pemilihan presiden tahun 2024 yang menekankan komitmen “Tidak Ada Perang Baru”.
Sebagian pendukung presiden mengaku kecewa karena mereka menilai tindakan militer terbaru bertentangan dengan janji kampanye tersebut.
Kritik juga muncul dari berbagai kelompok yang menilai bahwa operasi militer semacam itu seharusnya memerlukan persetujuan dari Kongres Amerika Serikat.
Menurut Konstitusi Amerika Serikat, kewenangan untuk menyatakan perang berada di tangan Kongres, bukan presiden.
Perdebatan Politik di Kongres AS
Perdebatan mengenai kewenangan militer juga muncul di Kongres Amerika Serikat. Dalam pekan terakhir, anggota Partai Republik dilaporkan memblokir rancangan undang-undang yang diajukan oleh anggota Partai Demokrat.
Rancangan undang-undang tersebut bertujuan untuk membatasi kewenangan presiden dalam melancarkan operasi militer tanpa persetujuan Kongres.
Penolakan terhadap rancangan undang-undang tersebut memicu perdebatan lebih lanjut mengenai keseimbangan kekuasaan antara cabang eksekutif dan legislatif dalam menentukan kebijakan perang.
Protes Juga Terjadi di Luar Amerika Serikat
Aksi penolakan terhadap konflik ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Australia, sekitar 20 orang dari kelompok Solidaritas Demokratik Iran menggelar protes spontan di luar Konsulat Amerika Serikat di North Sydney pada 6 Maret.
Para peserta aksi meneriakkan berbagai slogan, termasuk “Tidak ada perang terhadap Iran”, “Turunkan Trump”, dan “Hentikan perang AS-Israel terhadap Iran”.
Para pembicara dalam aksi tersebut juga mengajak masyarakat untuk tidak membiarkan pihak yang mereka sebut sebagai “penghasut perang global” menentukan masa depan Iran.
Mereka menyerukan gencatan senjata segera serta menegaskan bahwa agresi militer tidak akan membawa manfaat bagi rakyat Iran.
Gelombang Aksi Anti-Perang di Berbagai Negara
Demonstrasi di Sydney merupakan bagian dari gelombang aksi yang lebih luas yang dilakukan oleh diaspora Iran serta kelompok anti-perang di berbagai negara.
Kelompok-kelompok tersebut mendesak pemerintah Australia agar menarik dukungan terhadap operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Selain di Australia, aksi protes serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah kota lain di dunia, termasuk Berlin di Jerman, Sana'a di Yaman, Beirut di Lebanon, Baghdad di Irak, serta Manchester di Inggris.
Gelombang protes global ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat internasional terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah yang dapat berdampak luas terhadap stabilitas kawasan dan dunia. (fntv)
Sumber: Tasnim News Agency

Posting Komentar untuk "Gelombang Protes di Kota-Kota AS Tuntut Penghentian Serangan terhadap Iran"