Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Korps Garda Revolusi Islam Iran Tutup Selat Hormuz, Jalur Minyak Dunia Terancam Lumpuh

JAKARTA, Framing NewsTV – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) resmi menutup Selat Hormuz pada Sabtu (28/2) sebagai respons atas serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayah Iran sehari sebelumnya. Kebijakan ini memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak mentah dunia.

Penutupan tersebut diumumkan oleh Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari yang menyatakan langkah itu diambil menyusul agresi terhadap Iran. Keputusan ini menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan kawasan dan berpotensi memperluas dampak konflik ke sektor ekonomi internasional.

Dampak Langsung pada Distribusi Energi Global

Selat Hormuz adalah jalur pelayaran strategis yang terletak di antara Iran dan Oman. Perairan sempit ini menjadi penghubung utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk Persia seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab menuju pasar internasional. Selain minyak mentah, jalur ini juga menjadi rute vital pengiriman gas alam cair (LNG), terutama dari Qatar.

Data Badan Informasi Energi AS (EIA) tahun 2024 mencatat sekitar 20 juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz setiap hari. Angka tersebut setara hampir 20 persen konsumsi minyak global. Dengan volume sebesar itu, setiap gangguan di kawasan ini hampir pasti berdampak langsung pada harga dan pasokan energi dunia.

Sejumlah perusahaan minyak dan perusahaan perdagangan internasional dilaporkan menangguhkan pengiriman melalui selat tersebut sebagai langkah antisipasi keamanan. Beberapa kapal tanker disebut tetap berada di lokasi hingga situasi dinilai lebih aman.

Keterbatasan Jalur Alternatif

Analis energi menilai hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki infrastruktur pipa alternatif untuk mengalihkan sebagian ekspor minyak mereka. Namun, kapasitas jalur alternatif tersebut terbatas, dengan kemampuan maksimal sekitar 2,6 juta barel per hari—jauh di bawah rata-rata volume harian yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Kondisi ini membuat pasar global tetap sangat bergantung pada stabilitas jalur tersebut. Jika penutupan berlangsung dalam jangka panjang, gangguan distribusi diperkirakan semakin meluas dan memicu tekanan pada cadangan energi berbagai negara.

Lonjakan Harga Minyak dan Risiko Inflasi

Menjelang penutupan resmi, harga minyak mentah dunia sudah menunjukkan kenaikan. Pada Jumat (27/2), harga minyak Brent naik hampir 2,8 persen menjadi sekitar USD72,9 per barel, sementara WTI menyentuh USD67 per barel.

Lembaga keuangan internasional memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan dapat mendorong harga minyak melonjak signifikan. Dalam skenario terburuk, harga minyak Brent diproyeksikan dapat menembus USD140 per barel apabila blokade berlangsung lama. Skenario moderat memperkirakan harga dapat menyentuh USD100 per barel sebelum stabil di kisaran USD80–90.

Lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi global. Berdasarkan penelitian Dana Moneter Internasional (IMF), setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dapat meningkatkan inflasi domestik sekitar 0,4 poin persentase. Negara-negara pengimpor energi seperti China dan Turki diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak melalui kenaikan biaya bahan bakar, produksi industri, serta harga kebutuhan pokok.

Ketegangan Keamanan di Kawasan

Iran sebelumnya memiliki catatan ketegangan di perairan sekitar Selat Hormuz, termasuk insiden penyitaan kapal pada periode 2023–2024. Selama ini, Armada Kelima AS yang bermarkas di Bahrain bertugas mengamankan jalur pelayaran komersial di kawasan tersebut. Namun, efektivitas pengamanan kini menjadi sorotan setelah penutupan total oleh IRGC.

Situasi ini meningkatkan risiko ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Para pelaku pasar, pemerintah, serta lembaga internasional kini memantau perkembangan terbaru untuk menilai potensi dampak lanjutan terhadap stabilitas energi dan pertumbuhan ekonomi dunia. (fntv)

Posting Komentar untuk "Korps Garda Revolusi Islam Iran Tutup Selat Hormuz, Jalur Minyak Dunia Terancam Lumpuh"