Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Iran Memulai Masa Berkabung 40 Hari Setelah Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel

JAKARTA, Framing NewsTV – Pemerintah Iran resmi memulai masa berkabung nasional selama 40 hari setelah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tewas dalam serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel. Informasi tersebut disampaikan media pemerintah Iran menyusul konfirmasi wafatnya tokoh yang telah memimpin Republik Islam sejak 1989 tersebut.

Serangan yang terjadi pada Sabtu dilaporkan tidak hanya menewaskan Khamenei, tetapi juga sejumlah pejabat tinggi keamanan Iran serta beberapa anggota keluarganya. Peristiwa ini disebut sebagai salah satu pukulan paling signifikan terhadap struktur kepemimpinan Iran sejak Revolusi Islam 1979. Pemerintah menyatakan kematian tersebut sebagai momen duka nasional yang akan diperingati secara resmi di seluruh wilayah negara.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “kejahatan besar”. Selain menetapkan masa berkabung selama 40 hari, pemerintah juga mengumumkan tujuh hari libur nasional sebagai bentuk penghormatan. Di Teheran dan sejumlah kota besar, warga dilaporkan turun ke jalan untuk menyampaikan duka dan solidaritas.

Rekaman yang ditayangkan media pemerintah memperlihatkan suasana berkabung di berbagai lokasi penting, termasuk kompleks makam Imam Reza di Mashhad. Sejumlah pelayat terlihat menangis dan mengikuti doa bersama. Aksi protes mengecam serangan juga dilaporkan terjadi di Shiraz, Yasuj, dan Lorestan, sementara pengamanan diperketat di berbagai wilayah akibat situasi keamanan yang masih dinamis.

Dampak peristiwa ini turut meluas ke luar Iran. Irak mengumumkan tiga hari berkabung nasional. Di Baghdad, demonstrasi terjadi di sekitar Zona Hijau yang merupakan pusat gedung pemerintahan dan kedutaan asing. Di Pakistan, aksi protes juga dilaporkan berlangsung di Karachi. Namun, sejumlah laporan menyebut terdapat pula kelompok kecil yang merayakan peristiwa tersebut di beberapa kota Iran, mencerminkan dinamika sosial yang kompleks.

Dalam perkembangan politik internal, kantor berita resmi IRNA melaporkan pembentukan dewan sementara yang terdiri dari presiden, kepala kehakiman, dan seorang ahli hukum dari Dewan Penjaga Konstitusi untuk menjalankan tugas kepemimpinan hingga pemimpin tertinggi baru ditetapkan. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas pemerintahan dan memastikan kelangsungan fungsi negara.

Khamenei mengambil alih kepemimpinan Iran pada 1989 setelah wafatnya Ruhollah Khomeini. Selama masa kepemimpinannya, ia memperkuat struktur militer dan paramiliter serta memperluas pengaruh regional Iran. Perannya dinilai sentral dalam membentuk arah kebijakan domestik dan luar negeri negara tersebut selama lebih dari tiga dekade.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan akan melakukan pembalasan dan mengklaim telah meluncurkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer yang menampung pasukan AS serta fasilitas militer Israel. Laporan ledakan juga muncul dari beberapa negara kawasan Teluk, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab, di tengah peningkatan status siaga keamanan regional.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi respons yang belum pernah terjadi sebelumnya jika melakukan serangan balasan lebih lanjut. Di sisi lain, sejumlah analis keamanan internasional menilai situasi ini berisiko memperluas konflik dan memperumit upaya diplomasi dalam waktu dekat.

Menurut laporan Bulan Sabit Merah Iran, sedikitnya 201 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat serangan gabungan tersebut yang menjangkau sebagian besar provinsi di Iran. Angka korban diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses evakuasi dan identifikasi yang terus berlangsung. Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam ketegangan tinggi dengan implikasi geopolitik yang luas. (fntv)

Posting Komentar untuk "Iran Memulai Masa Berkabung 40 Hari Setelah Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel"