Mengejutkan! Hasil Investigasi Al Jazeera: Penargetan Sekolah Putri di Iran Kemungkinan ‘Disengaja’
JAKARTA, Framing NewsTV – Investigasi mendalam yang dilakukan unit Investigasi Digital Al Jazeera mengungkap temuan mengejutkan terkait serangan rudal yang menghantam sekolah putri “Shajareh Tayyebeh” di Kota Minab, Iran selatan, pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026. Laporan tersebut menyebut penargetan sekolah kemungkinan bukan sekadar dampak samping, melainkan serangan langsung yang menimbulkan pertanyaan serius tentang akurasi intelijen atau bahkan dugaan kesengajaan.
Serangan terjadi saat Israel dan Amerika Serikat memulai gelombang serangan awal terhadap Iran. Saat para siswi memulai pelajaran di hari pertama pekan sekolah, rudal menghantam kompleks sekolah dan menyebabkan bangunan runtuh.
Otoritas Iran menetapkan jumlah korban tewas sebanyak 165 orang, sebagian besar anak perempuan berusia 7 hingga 12 tahun. Sedikitnya 95 orang lainnya dilaporkan terluka.
Bantahan AS dan Israel
Menyusul beredarnya gambar kehancuran di media sosial, pejabat pertahanan AS dan militer Israel menyatakan tidak mengetahui bahwa sebuah sekolah menjadi sasaran.
Juru bicara Departemen Pertahanan AS dan tentara Israel, seperti dikutip majalah Time dan Associated Press, menyatakan mereka “tidak mengetahui bahwa sebuah sekolah telah terkena serangan.”
Di sisi lain, sejumlah akun dan situs yang berafiliasi dengan Israel mengklaim lokasi tersebut merupakan bagian dari pangkalan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Temuan Investigasi Digital Al Jazeera
Unit Investigasi Digital Al Jazeera menganalisis citra satelit selama lebih dari satu dekade, klip video terbaru, laporan berita, serta pernyataan resmi Iran. Hasilnya menunjukkan sekolah tersebut telah terpisah secara fisik dan administratif dari kompleks militer terdekat setidaknya sejak 2016.
Citra satelit arsip melalui Google Earth dari periode 2013 hingga sebelum serangan 2026 memperlihatkan perubahan struktural signifikan. Pada 2016, dinding pemisah internal dibangun untuk memisahkan sekolah dari kompleks militer “Sayyid al-Shuhada”, termasuk markas Brigade Asif.
Tiga gerbang eksternal baru dibuka langsung ke jalan umum, dan dua menara pengawas militer dibongkar. Dokumentasi visual pada 2018 menunjukkan aktivitas sipil yang jelas: kendaraan pribadi di pintu masuk, lapangan olahraga anak-anak, serta mural warna-warni khas sekolah dasar.
Temuan ini membantah klaim bahwa sekolah masih menjadi bagian aktif dari barak militer.
Kronologi Serangan dan Bukti Visual
Citra satelit pada hari kejadian menunjukkan bangunan sekolah masih utuh hingga pukul 10:23 pagi waktu setempat. Sumber Iran menyebut rudal menghantam sekolah pada pukul 10:45 pagi.
Analisis dua video yang diunggah di Telegram memperlihatkan dua kolom asap hitam terpisah: satu dari pangkalan militer, satu lagi dari lokasi sekolah. Jarak kedua titik sesuai dengan data satelit, memperkuat dugaan bahwa sekolah terkena serangan langsung, bukan akibat serpihan dari target militer.
Fakta lain yang memicu pertanyaan adalah tidak tersentuhnya Klinik Spesialis Syahid Absalan yang dibuka Januari 2025 oleh Mayor Jenderal Hossein Salami. Klinik tersebut berada di antara pangkalan militer dan sekolah, namun luput dari serangan.
Al Jazeera menyoroti kontradiksi ini: jika data intelijen cukup mutakhir untuk menghindari klinik baru, bagaimana mungkin gagal mengidentifikasi sekolah yang telah berfungsi sebagai fasilitas sipil lebih dari 10 tahun?
Investigasi menyimpulkan dua kemungkinan: kegagalan intelijen serius akibat penggunaan basis data usang, atau penargetan disengaja dengan menganggap sekolah sebagai bagian dari sistem militer.
Perspektif Hukum Humaniter
Secara hukum internasional, status administratif sekolah yang terafiliasi dengan IRGC tidak otomatis mengubahnya menjadi target militer. Anak-anak tetap dikategorikan sebagai “orang yang dilindungi” dalam konflik bersenjata.
Lembaga Pemantau HAM Euro-Med menyebut pemboman tersebut sebagai “kejahatan mengerikan dan penguatan runtuhnya perlindungan sipil.” Dalam pernyataannya, lembaga itu menegaskan bahwa keberadaan pangkalan militer di dekatnya tidak menghapus kewajiban hukum untuk memverifikasi target secara cermat.
Klaim Menyesatkan di Media Sosial
Setelah serangan, akun-akun di platform X menyebarkan narasi bahwa sekolah hancur akibat rudal pertahanan udara Iran yang gagal. Namun, verifikasi sumber terbuka menunjukkan gambar yang digunakan berasal dari insiden di Zanjan, sekitar 1.300 kilometer dari Minab.
Perbedaan geografis dan iklim antara Minab yang pesisir dan Zanjan yang pegunungan bersalju membantah klaim tersebut.
Pola Historis Serangan terhadap Fasilitas Sipil
Investigasi Al Jazeera juga menempatkan insiden Minab dalam konteks historis. Beberapa contoh yang dikutip meliputi pemboman sekolah Bahr al-Baqar di Mesir (1970), penampungan sipil Amiriyah di Baghdad (1991), kompleks UNIFIL di Qana (1996), serta rumah sakit MSF di Kunduz (2015).
Dalam banyak kasus tersebut, klaim awal seringkali dibantah oleh investigasi independen yang mengungkap kekeliruan atau kesalahan identifikasi target.
Kesaksian dan Dampak Kemanusiaan
Shiva Amilairad dari Dewan Koordinasi Serikat Guru Iran mengatakan kepada majalah Time bahwa keputusan evakuasi telah diambil, namun waktu terlalu singkat bagi orang tua untuk menjemput anak-anak mereka.
Ia menyebut kapasitas kamar mayat penuh sehingga truk pendingin digunakan untuk menyimpan jenazah. Beberapa keluarga dilaporkan kehilangan lebih dari satu anak.
Temuan investigasi Al Jazeera menyisakan pertanyaan mendasar tentang akuntabilitas dan validitas intelijen dalam operasi militer tersebut. Apakah ini kelalaian fatal atau tindakan yang disengaja, dampaknya tetap sama: ratusan korban sipil, mayoritas anak-anak, dalam sebuah tragedi yang mengguncang komunitas internasional. (fntv)

Posting Komentar untuk "Mengejutkan! Hasil Investigasi Al Jazeera: Penargetan Sekolah Putri di Iran Kemungkinan ‘Disengaja’"