Wapres Gibran Soroti Tantangan Komunikasi Publik di Era Disrupsi Media Digital
JAKARTA, Framing NewsTV — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyoroti pentingnya strategi komunikasi publik yang adaptif di tengah pesatnya disrupsi media digital, khususnya untuk menjangkau generasi muda yang kini memiliki pola konsumsi informasi semakin beragam dan dinamis. Hal tersebut disampaikan Wapres saat berdialog dengan jajaran manajemen dan redaksi B Universe dalam kunjungan ke Kantor Pusat BTV di Kompleks Superblok Tokyo HUB Pantai Indah Kapuk 2, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (29/01/2025).
Dalam dialog tersebut, Wapres menekankan bahwa perubahan lanskap media menuntut pemerintah untuk terus menyesuaikan pendekatan komunikasi agar pesan-pesan kebijakan dapat diterima secara efektif oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sejalan dengan Arahan Presiden Prabowo Subianto
Wapres Gibran menyampaikan bahwa dialog ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya penguatan komunikasi publik pemerintah di era transformasi digital. Presiden meminta agar strategi komunikasi negara bersifat adaptif, transparan, dan inklusif, sekaligus mampu menangkal hoaks serta menjaga kepercayaan publik.
Menurut Wapres, kehadiran negara di ruang komunikasi modern menjadi krusial untuk membangun optimisme di tengah berbagai tantangan, baik di tingkat nasional maupun global.
Apresiasi untuk B Universe di Tengah Disrupsi Media
Dalam kesempatan tersebut, Wapres memberikan apresiasi kepada B Universe yang dinilainya berani tumbuh dan berkembang di tengah era disrupsi media, ketika pola konsumsi informasi masyarakat berubah sangat cepat.
“B Universe ini memang lahir pada saat disrupsi. Ya sudah, saya kira itu sebuah keberanian dan juga kenekatan dari B Universe, era disrupsi,” ujar Gibran.
Ia menilai keberanian tersebut menjadi modal penting bagi media untuk terus relevan dan berkontribusi dalam ekosistem informasi nasional.
Pemerintah Bereksperimen dengan Format Komunikasi Baru
Menghadapi perubahan lanskap media, Wapres mengungkapkan bahwa pemerintah juga terus bereksperimen dengan berbagai format komunikasi, termasuk monolog dan podcast di beragam kanal digital.
“Kemarin, satu tahun terakhir ini, kami juga mencoba melakukan monolog. Kita coba juga ikut podcast di channel-channel yang sebenarnya nggak jelas,” ungkapnya.
Menurut Wapres, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjangkau audiens yang selama ini sulit disentuh melalui pola komunikasi formal.
Podcast Nonkonvensional Justru Efektif
Gibran mencontohkan pengalamannya mengikuti sebuah podcast nonkonvensional yang dinilai tidak memiliki format baku, namun ternyata efektif menjangkau publik luas.
“Tapi ternyata yang nggak jelas ini, mohon maaf, ternyata juga efektif. Yang di Bebek Carok itu, kemarin itu kan nggak jelas. Nggak ada skripnya, tapi itu ternyata nyampe ke orang-orang. Ternyata ramai, tiga juta [penonton],” katanya.
Menurutnya, fenomena ini menunjukkan bahwa ruang komunikasi publik kini semakin cair dan menuntut fleksibilitas pemerintah dalam menyampaikan pesan.
Media Konvensional Tetap Jadi Mitra Strategis
Meski mendorong adaptasi digital, Wapres menegaskan bahwa pemerintah tidak akan meninggalkan media konvensional. Ia menilai media arus utama tetap memiliki peran strategis sebagai corong informasi pemerintah yang kredibel dan berimbang.
“Kita nggak mungkin ninggalin media konvensional juga. Karena apa pun itu, ini jadi corongnya pemerintah. Pemberitaan yang objektif, narasi-narasi yang mengedepankan optimisme, ini kan harus terus digaungkan,” tegasnya.
Wapres menilai sinergi antara media konvensional dan media digital menjadi kunci keberhasilan komunikasi publik di era saat ini.
Tantangan Global Jadi Tanggung Jawab Bersama
Menutup dialog, Wapres Gibran menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar B Universe atas peran aktifnya dalam mengawal komunikasi publik pemerintah di tengah berbagai tantangan global.
“Saya terima kasih sekali untuk Bapak, Ibu semua, para direksi, para pimpinan, teman-teman B Universe. Challenge ke depan masih banyak, urusan geopolitik, climate change, macam-macam. Jadi ini memang jadi tantangan kita bersama,” pungkasnya.
Komitmen B Universe pada Jurnalisme Konstruktif
Sebelumnya, Executive Chairman B Universe Enggartiasto Lukita menegaskan komitmen B Universe untuk mengedepankan pemberitaan yang positif, santun, dan konstruktif. Ia menegaskan bahwa setiap persoalan diberitakan secara apa adanya, namun dikemas dengan bahasa yang tidak provokatif serta dimaksudkan sebagai masukan bagi pemerintah.
Seiring pertumbuhan B Universe di berbagai platform digital seperti YouTube, media sosial, dan podcast, Enggartiasto memastikan bahwa seluruh konten tetap berpegang pada etika jurnalistik, meskipun disajikan dengan format yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. (fntv)

Posting Komentar untuk "Wapres Gibran Soroti Tantangan Komunikasi Publik di Era Disrupsi Media Digital"