Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penculikan Maduro oleh AS Picu Ketegangan Global, Ancaman Perang AS-Iran Menguat

JAKARTA, Framing NewsTV — Amerika Serikat kembali mengguncang panggung geopolitik dunia setelah secara terbuka mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi militer berskala besar. Langkah kontroversial yang diumumkan Presiden AS Donald Trump itu langsung memicu kekhawatiran internasional, termasuk potensi eskalasi konflik yang lebih luas dengan Iran.

Beberapa jam setelah kabar penangkapan Maduro mencuat, politisi senior Israel sekaligus mantan Perdana Menteri, Yair Lapid, melontarkan peringatan keras kepada Teheran. Ia menegaskan bahwa Iran harus mencermati dengan saksama apa yang terjadi di Venezuela. Pernyataan tersebut dilansir Al Jazeera pada Senin (5/1/2026), dan dinilai sebagai sinyal meningkatnya risiko konflik terbuka di kawasan Timur Tengah.

Penggulingan paksa Maduro terjadi kurang dari sepekan setelah Trump bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pertemuan itu, Trump kembali melontarkan ancaman akan melakukan serangan militer lanjutan terhadap Iran. Meski konflik AS dengan Venezuela dan Iran memiliki latar belakang berbeda, para analis menilai tindakan Trump terhadap Maduro membuka preseden berbahaya yang dapat mempercepat jalan menuju perang dengan Iran.

Presiden Dewan Nasional Iran-Amerika (NIAC), Jamal Abdi, menilai situasi global kini semakin tidak stabil. Menurutnya, penculikan kepala negara secara paksa menunjukkan runtuhnya norma hukum internasional. Kondisi ini, kata Abdi, membuat konflik bersenjata menjadi semakin mungkin, terutama jika Iran merasa terdesak untuk meningkatkan kemampuan militernya atau melakukan serangan pendahuluan.

Pandangan serupa disampaikan peneliti senior Center for International Policy, Negar Mortazavi. Ia menilai langkah AS di Venezuela mencerminkan pendekatan maksimalis Trump yang secara efektif menutup peluang diplomasi. Dari perspektif Teheran, pemerintahan Trump dianggap tidak menginginkan negosiasi, melainkan penyerahan total, sehingga konflik menjadi skenario yang kian realistis.

Ketegangan juga diperburuk oleh hubungan erat Iran dan Venezuela. Kedua negara yang sama-sama berada di bawah sanksi berat AS itu selama bertahun-tahun membangun aliansi ekonomi dan politik, termasuk kerja sama energi bernilai miliaran dolar. Jatuhnya Maduro dinilai berpotensi mempersempit jaringan sekutu Iran, setelah sebelumnya Suriah dan Hizbullah Lebanon juga mengalami tekanan signifikan.

Pemerintah Iran secara resmi mengecam keras operasi militer AS di Venezuela dan menyerukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera bertindak. Teheran menyebut tindakan AS sebagai agresi ilegal yang mengancam perdamaian dan keamanan internasional serta merusak tatanan global berbasis Piagam PBB.

Sementara itu, Trump justru menegaskan bahwa penculikan Maduro adalah pesan tegas bagi seluruh rival Washington. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut tindakan tersebut sebagai bukti bahwa Trump serius dalam menepati ancamannya. Namun, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei merespons dengan retorika perlawanan, menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah dan siap memaksa musuhnya bertekuk lutut.

Ancaman Trump terhadap Iran semakin eksplisit setelah pertemuannya dengan Netanyahu. Ia kembali mengancam akan menghancurkan Iran jika negara itu membangun kembali program nuklir atau militernya. Sebelumnya, Israel dan AS telah melancarkan serangan besar ke Iran pada Juni, menewaskan sejumlah tokoh militer, ilmuwan nuklir, dan ratusan warga sipil.

Meski Trump mengklaim serangan tersebut sukses besar, Iran tetap mampu membalas dengan ratusan roket ke wilayah Israel. Fakta ini memperkuat pandangan bahwa perubahan rezim di Iran bukanlah perkara mudah dan justru berpotensi memicu perang besar dengan dampak global.

Di sisi lain, situasi di Venezuela pasca-penculikan Maduro juga belum stabil. Wakil Presiden Delcy Rodriguez yang ditunjuk sebagai presiden sementara menegaskan Maduro tetap pemimpin sah Venezuela dan menuduh adanya keterlibatan Israel dalam operasi tersebut. Trump pun kembali mengancam akan menjatuhkan sanksi dan hukuman lebih keras jika pemerintah sementara Venezuela tidak tunduk pada tuntutan AS.

Sejumlah analis menilai ambisi AS untuk menguasai cadangan minyak Venezuela menjadi faktor kunci di balik operasi militer ini. Bahkan, beberapa politisi AS menyebut penguasaan minyak Venezuela dapat menjadi bantalan strategis jika perang besar dengan Iran benar-benar terjadi, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz yang berpotensi ditutup Iran.

Meski demikian, para pakar mengingatkan bahwa skenario tersebut penuh ketidakpastian. Keterlibatan jangka panjang AS di Venezuela justru bisa menguras kapasitas militer dan politik Washington, sehingga secara paradoks dapat menunda konflik langsung dengan Iran. Dunia kini menahan napas, menyaksikan apakah penculikan Maduro menjadi awal babak baru konflik global yang lebih luas. (fntv)

Posting Komentar untuk "Penculikan Maduro oleh AS Picu Ketegangan Global, Ancaman Perang AS-Iran Menguat"