Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Iran Perketat Represi Protes, Internet Diputus dan Ancaman Hukuman Mati Menguat

JAKARTA, Framing NewsTVPemerintah Iran meningkatkan penindakan terhadap gelombang protes nasional dengan memutus akses internet, memperketat keamanan, serta melontarkan ancaman hukuman mati kepada para pengunjuk rasa. Langkah keras ini diambil di tengah ekspektasi kerusuhan lanjutan pada Jumat malam (9/1/2026), sebagaimana dilaporkan Bloomberg.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan mentolerir aksi yang dianggap sebagai vandalisme maupun pihak-pihak yang dinilai bertindak sebagai kepanjangan tangan kekuatan asing. “Republik Islam tidak akan mentolerir vandalisme atau orang-orang yang bertindak sebagai tentara bayaran untuk kekuatan asing,” kata Khamenei, dikutip dari Press TV, media pemerintah Iran.

Pernyataan Khamenei diikuti peringatan keras dari Jaksa Teheran yang menyebut para perusuh yang merusak fasilitas publik dapat dijatuhi hukuman mati. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa “kelanjutan situasi ini tidak dapat diterima” dan menegaskan hak mereka untuk membalas apa yang disebut sebagai “insiden teroris”.

Nada keras dari otoritas keamanan ini menunjukkan kesiapan pemerintah meningkatkan respons represif terhadap demonstrasi yang telah berlangsung hampir dua pekan. Hal tersebut terjadi meski Presiden Masoud Pezeshkian sebelumnya menyampaikan pemakluman atas keluhan ekonomi para demonstran dan memerintahkan aparat keamanan untuk menahan diri.

Gelombang protes ini dinilai sebagai tantangan paling serius bagi Khamenei yang kini berusia 86 tahun sejak pemberontakan nasional pada 2022. Kerusuhan bermula pada 28 Desember di Grand Bazaar Teheran, dipicu anjloknya nilai mata uang rial ke titik terendah sepanjang sejarah, yang memperparah krisis biaya hidup di tengah ekonomi Iran yang tertekan sanksi internasional.

Menurut Human Rights News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, jumlah korban tewas sejak protes dimulai mencapai 42 orang. Sementara BBC melaporkan telah mengonfirmasi secara independen sedikitnya 21 korban tewas. Otoritas Iran hingga kini belum merilis angka resmi korban.

Kondisi ekonomi Iran turut memperkeruh situasi. Negara anggota OPEC ini menghadapi persoalan korupsi dan penurunan tajam harga minyak sepanjang setahun terakhir. Meski demikian, harga minyak acuan Brent tercatat naik sekitar 4% dalam sepekan terakhir menjadi di atas US$62 per barel, kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober, di tengah eskalasi protes.

Pemadaman internet nasional juga kembali diberlakukan. Kelompok pemantau internet NetBlocks melaporkan bahwa gangguan konektivitas berlangsung selama 24 jam dan masih berlanjut pada Jumat. Upaya Bloomberg menghubungi warga Iran melalui telepon rumah maupun ponsel dilaporkan gagal. Sejumlah warga Teheran menyebut sambungan telepon tidak berfungsi atau terputus-putus, sementara layanan pesan singkat dibatasi ketat.

Otoritas Iran diketahui kerap menggunakan pemadaman internet saat terjadi kerusuhan untuk mencegah penyebaran dokumentasi kekerasan aparat terhadap warga sipil. Kementerian Komunikasi Iran menyatakan melalui platform X bahwa gangguan dilakukan demi alasan keamanan dan proses pemulihan konektivitas sedang diupayakan.

Meski akses komunikasi dibatasi, sejumlah video yang diunggah di X dan Instagram memperlihatkan ribuan orang berkumpul di jalan-jalan utama Teheran. Dalam salah satu video, massa terdengar meneriakkan slogan “matilah diktator” di kawasan Karim Khan. Di kota Isfahan, demonstran dilaporkan merobohkan papan nama kantor televisi pemerintah dan membakar area di sekitarnya. Namun, Bloomberg menyatakan belum dapat memverifikasi keaslian video-video tersebut.

Dalam beberapa unggahan juga terdengar seruan “Hidup Shah”, merujuk pada mantan penguasa Iran yang digulingkan pada Revolusi 1979 serta putranya, Reza Pahlavi, yang kini tinggal di pengasingan di Amerika Serikat. Pahlavi (65) menyatakan keinginannya memimpin transisi demokrasi di Iran dan melalui akun X menyerukan warga untuk “memperbesar jumlah massa” dalam aksi Jumat malam.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Pahlavi sebagai “orang baik”, namun mengaku belum yakin apakah tepat untuk bertemu dengannya. Dalam wawancara dengan The Hugh Hewitt Show, Trump kembali memperingatkan Iran agar tidak membunuh demonstran. “Jika mereka melakukannya, mereka akan menanggung konsekuensi yang berat,” ujar Trump.

Menanggapi pernyataan tersebut, Khamenei meminta Trump “mengurus negaranya sendiri jika mampu” dan menuding tangan Presiden AS itu “berlumuran darah”, merujuk pada serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Juni lalu.

Eskalasi kerusuhan juga berdampak pada sektor transportasi. Mengutip situs bandara, maskapai non-Iran dilaporkan membatalkan seluruh penerbangan antara Teheran–Istanbul pada Jumat mulai pukul 11.30 waktu setempat, serta menunda dan membatalkan sejumlah penerbangan tambahan ke Dubai. (fntv)

Posting Komentar untuk "Iran Perketat Represi Protes, Internet Diputus dan Ancaman Hukuman Mati Menguat"